//
you're reading...
Kabar dari Luar

Khatibnya orang Jamaika (chicken soup kurang bumbu :D)

Khati JumatSejak mempunyai bayi, saya tak pernah lagi mengikuti shalat Jumat berjamaah di Nottingham. Masjid-masjid di kota ini hanya menerima jamaah laki-laki. Satu-satunya tempat shalat yang menerima jamaah perempuan hanyalah ruangan di universitas yang diubah menjadi tempat shalat bagi muslimah. Dan para muslimah di sana, mayoritas adalah mahasiswi lajang yang tak bisa berkonsentrasi kalau mendengar suara tangis bayi.

Hari ini suami bercerita bahwa khatib shalat Jumat adalah seorang mualaf. Ia berkhutbah tentang kemualafan. Sang Khatib menyatakan bahwa sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saww berikut, Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Sang Khatib kemudian menyinggung, jumlah umat Islam sekarang memang besar, tetapi bagaikan buih di lautan. Salah satu contohnya adalah, umat Islam tidak melakukan tindaklanjut terhadap orang-orang yang berhasil diislamkannya. Dalam banyak kasus, umat Islam hanya puas setelah sang obyek dakwah bersyahadat, lantas memeluk Islam. Tetapi tidak mengawal pemahaman sang muslim baru lebih lanjut.

Saya langsung teringat kepada dua orang mu’alaf berkebangsaan Amerika Serikat. Keduanya adalah mu’alaf pertama yang saya kenal di sepanjang hidup saya. Saya dulu mengenal mereka ketika setahun hidup di Amherst, Massachusetts. Yang pertama adalah William Harrell III. Kami biasa memanggilnya Pak Bill. Pak Bill berkulit putih berusia sekitar 60 tahun. Sudah botak dan beruban. Tubuhnya pendek, namun terkesan kekar. Namun sesungguhnya, tubuhnya sangat rapuh, akibat olahraga angkat beban yang ditekuninya ketika masih muda. Hingga kini tulang lututnya bermasalah dan sering memerlukan tindakan operasi.

Pak Bill adalah orang miskin. Literally, miskin. Ia hidup tanpa pekerjaan tetap dan tinggal di dalam sebuah kamar. Sekali lagi, kamar, bukan rumah. Pak Bill memiliki seorang putri yang waktu itu berusia 8 tahun, Rebecca namanya. Rebecca berkulit putih, berambut keemasan, dan pipinya selalu kemerahan. Ia seumpama sembilan puluh persen hidup Pak Bill setelah istrinya menceraikannya karena tak rela ia memeluk Islam.

Pak Bill dan istrinya, sedang memperjuangkan hak masing-masing untuk mengasuh Rebecca secara penuh. Dalam keadaannya yang papa, Pak Bill terancam dianggap tak mampu memelihara dan mendidik Rebecca. Saya tidak tahu apa pekerjaan mantan istrinya. Tetapi Pak Bill menyebutkan bahwa para aktivis gereja di Amherst memberikan dukungan yang sangat kuat kepada mantan istrinya. Terlebih dengan riwayat Pak Bill yang meninggalkan agama Kristen.

Pak Bill sendiri memeluk Islam setelah menjadi pemeluk berbagai macam agama sejak masa mudanya. Ia pernah menjadi umat Kristiani, Hindu, Budha, Shinto,Kong Hu Cu, juga agama-agama lain yang saya tidak mengenalnya. Di usianya yang sudah senja ia tak berhenti mencari. Dan Islamlah pelabuhan jawaban yang dicarinya selama ini.

Mualaf selanjutnya adalah Ibu Sarah. Nama aslinya adalah Judith. Beliau seorang psikolog dan kami akrab setelah ia mengetahui saya pernah menempuh pendidikan dokter. Bu Sarah bertubuh tinggi, besar, dan sangat ramah. Ia pernah bercerita bahwa di masa muda ia adalah aktivis Hippies, di era Flower Generation, yang di tahun 1960-an populer dengan hidup seperti gembel dan gelandangan dan menyerukan love and peace.

Sejak menjadi muslim, Bu Sarah berusaha menutup kepalanya dengan pashmina. Meski belum mahir sehingga helai- helai rambut pirang sering mencuat di tepi-tepi wajahnya, tak pernah saya melihatnya tanpa kerudung.

Ramadhan 2007, masjid kecil di kota kami, -satu-satunya masjid di Amherst dan sekitarnya-, menyelenggarakan berbuka bersama. Ini adalah agenda rutin. Saya pun tak ketinggalan turut membawa makanan. Saat itu, adzan maghrib sudah berkumandang sekitar 20 menit sebelumhya. Saya sudah membatalkan puasa dengan meminum air dan memakan kurma seadanya untuk sekadar membatalkan puasa, sambil mengawasi para jamaah mengambil makanan utama. Saya agak khawatir makananannya kurang. Semua orang baik student dan non-student sibuk dengan makanan dan keluarga masing-masing.

Saya melihat Bu Sarah hanya berdiri mematung di pojok ruangan. Lantas saya menghampirinya dan bertanya, “Anda sudah makan?”

Belaiu menggeleng, lalu menjawab, “I don’t know how to break a fast…”

Dan saya merasa seperti ditimpa batu berton-ton. Begitu banyak muslim di dalam masjid, termasuk saya. Tak seorang pun menyadari ada seorang mualaf yang kebingungan karena tak tahu cara berbuka puasa…

Pak Bill harus berjuang mengatasi persoalannya sendiri. Tak satu muslim pun membantunya. Tak juga saya dan suami, yang tidak tahu harus berbuat apa. Kami pendatang dan tak lama bermukim di Amherst. Saya dan suami hanya bisa membantu semampunya. Menengoknya ketika lututnya sakit dan tak mampu ke masjid. Itu pun biasanya hanya suami yang menjenguk karena keadaan tempat tinggalnya tak memungkinkan Pak Bill menerima tamu. Biasanya saya hanya menitipkan penganan lewat suami. Juga mengajarkan Islam kepada Rebecca ketika hari itu adalah bagian Pak Bill mengasuhnya. Kami tak mampu berbuat lebih….

Lantas saya sakit karena hamil. Kemudian suami dan saya harus pindah ke Inggris. Di bulan-bulan pertama, kami masih rajin bertukar kabar dengan Pak Bill dan Bu Sarah lewat email. Dan seperti kisah klasik lainnya, lambat laun, frekuensi kontak berkurang. Lalu putus sama sekali.

Khatib shalat Jumat itu sendiri berkulit hitam dan berasal dari Jamaika. Ia mengatakan, justru di dalam Islamlah ia menerima perlakuan rasis. Saya merasa tertampar. Karena sudah jamak umat Islam di mana-mana, kalau jumlahnya besar, hanya berkumpul dengan rekan-rekan sebangsanya. Contohnya adalah di Nottingham sendiri. Yang kalangan IPB (India, Pakistan, Bangladesh), mendirikan Pakistani Centre. Ada Malaysian Centre. Muslim yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa utamanya, sudah pasti membuat grup tersendiri.

Menurut suami yang pernah menempuh pendidikan doktoral di Enschede, Belanda, para student muslim dari Indonesia, juga tak saling berbicara dengan muslim Turki. Bahkan ketika berada di dalam satu masjid sekali pun. Bukan karena kendala bahasa karena sebagai student mereka fasih berbahasa Inggris. Tetapi mental berkelompok inilah penyebabnya.

Saya tahu bahwa sebagai muslim saya diharuskan berakhlak yang baik. Di dalam kitab Nizham Al Islamiyah, An Nabhani menyatakan akhlak sebagai bagian dari syariat Islam. Di dalam sebuah artikel yang dimuat oleh Al Waie bertahun yang lalu, saya membaca, bahwa ketika daulah khilafah belum terwujud maka pengemban dakwah adalah representasi Islam yang paling bisa diindera oleh umat manusia. Termasuk kalangan non-muslim.

Namun sadar atau tidak saya justru seringkali berperilaku tak baik ketika bermuamalah dengan sesama manusia. Saya masih sering mendiskriminasi seorang muslim hanya karena ia berbeda kelompok pengajian dengan saya.

Sungguh, ternyata saya masih sangat jauh dari sabda Baginda Nabi, “Tidak beriman diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Semoga Allah Swt mengampuni segala dosa akibat kesalahan dan kelalaian saya…

Nottingham, 22-4-2012

Catatan dan Masukan tulisan ini ada di:https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/393115970722209/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: