//
you're reading...
Solilokui

MIDAS!

MIDAS!

Aku diselimuti emas,

Dipayungi emas,

Dihujani emas,

Semuanya emas,

Namun itu tiada arti,

Tanpa bahagia…

 

Mulanya,

aku hanyalah seorang miskin yang tak punya apa-apa. Sangat miskin

bahkan untuk makan pun harus berhutang sana sini. Anak-anakku banyak dan

makannya rakus. Istriku cantik, dan senang pamer.

 

Suatu

hari, anakku yang bungsu bercerita tentang Raja Midas dalam mitologi

Yunani bahwa raja tersebut kaya raya. Segala yang disentuhnya berubah

jadi emas. Hebat betul. Pasti dia orang yang sangat beruntung mempunyai

kekuatan semacam itu. Siapa yang tak mau memiliki kekayaan demikian

berlimpah? Kurasa semua orang menginginkannya!

 

Setiap

hari istriku yang cantik namun celaka karena menikah dengan gembel

buruk rupa sepertiku itu marah-marah. Mengomel karena penghasilanku tak

pernah mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Minggu lalu dia bilang ingin

punya kalung berlian seperti yang dipakai tetangga sebelah rumah.

Kukatakan padanya bahwa itu mustahil, dia langsung memunggungiku seraya

bersungut-sungut, “Dasar miskin! Suami tak berguna!”

 

Lama-kelamaan

aku jengah juga menghadapi keruwetan yang ada dalam rumah. Kecerewetan

mereka semuanya membuatku pusing, bagaimana caranya agar

kebutuhan-kebutuhan mereka dapat terpenuhi? Bagaimana caranya agar untuk

makan dan berpakaian kami tak berhutang? Bagaimana pula caranya agar

mereka dapat menggunakan mobil, berhiaskan permata dan berlian, serta

bisa shoping atau arisan bersama ibu-ibu PKK. Ya, biar tampak keren

begitulah…

 

Maka

kutemukan sebuah cara yang fantastik. Cara ini memang sangat berbahaya.

Sangat mungkin aku tak dapat melihat diriku seperti dulu lagi.

Bagaimana menurutmu, Kawan? Apa? Korupsi? Tidak, aku tak akan pernah

melakukan perbuatan mencuri hak orang lain. Aku masih punya sedikit iman

untuk tidak melakukan perbuatan hina itu.

 

Ide ini kutemukan ketika duduk di teras rumah, kulihat tetanggaku yang seminggu

lalu kecelakaan, pulang dalam keadaan kaki diamputasi. Aku pikir,

pastilah ia sangat menginginkan kakinya kembali. Kakinya pasti sangat

berharga untuk menendang bola dan berlari di lapangan hijau. Pasti sedih

rasanya tak punya kaki. Segera saja aku ke rumah sakit.

 

Kawan,

aku menawarkan bagian tubuhku untuk dijual kepada mereka yang

membutuhkan. Aku punya sepasang ginjal, rasanya tak apalah kalau aku

menjual satu buah. Pasti mereka yang punya penyakit gagal ginjal akan

senang hati membeli ginjalku dengan harga mahal. Tawaranku diterima oleh

dua orang pasien! Akhirnya, sepasang ginjalku itu kujuallah. Satu buah

kuhargai lima juta. Dan kini, sepuluh juta rupiah harum sekali di

tanganku. Kuberikan uang itu untuk istriku yang cantik untuk membeli

gincu merah menyala, kalung emas seberat rantai sepeda, dan membayar

hutang-hutang kami selama ini. Anak-anakku bersorak gembira melihat

lembaran-lembaran uang warna merah bergambar pahlawan bangsa itu. Aku

tertawa.

 

Namun

kesehatanku bermasalah sejak penjualan ginjal itu. Uang sudah habis,

dan kembali kami berkubang dalam kesusahan. Mereka tidak tahu kalau aku

menjual ginjalku untuk membahagiakan mereka. Kembali aku ke rumah sakit

dan menawarkan sepasang tanganku. Kali ini, kuhargai dengan sepuluh

milyar rupiah. Hm, sebuah harga yang fantastis bukan? Dengan uang

sebanyak ini aku bisa membeli rumah gedong dan mobil mewah. Anak-anakku

semakin sering menciumiku, mengatakan bahwa mereka sayang padaku.

Istriku, semakin sering ikut kegiatan ibu-ibu PKK. Tak ada yang

bertanya, mengapa tanganku kini tak ada?

 

Aku

punya uang banyak. Sangat banyak hingga aku tak dapat memegangnya.

Tanganku sudah menjadi milik orang lain, aku tak dapat lagi merasakan

nikmatnya memegang uang banyak. Tak dapat lagi mencicipi makanan di meja

makan. Hanya dengan mulut aku melakukannya, terkadang juga dengan

kakiku. Hidup terasa semakin susah karena keadaanku ini.

***

 

Tahun-tahun

berlalu, lama-kelamaan uangku habis. Anak-anakku kembali merengek ini

itu. Istriku yang cantik itu juga sering mengomeliku, minta dibelikan

permata untuk bisa dipamerkan kepada para tetangga. Melihat

kecantikannya yang aduhai, aku tak bisa menolak. Dengan kedua kakiku,

aku kembali menawarkan kepada rumah sakit yang bersedia membeli….hm…apa ya

yang sekarang akan kujual? Aku berdiri di selasar rumah sakit, melihat

ke dalam kamar-kamar pasien betapa mereka menderita. Tanganku sudah tak

ada, apakah kini aku akan menjual kakiku? Lalu dengan apa aku bisa

berjalan pulang?

 

Masih ada kruk atau kursi roda, ingat uang yang akan kauterima itu sangat banyak…melebihi apa yang selama ini kaudapatkan! Sebuah

suara bergema dari dalam diriku. Oh! Aku akan menjadi orang cacat

menyedihkan di dunia ini. Tak punya tangan, tak punya kaki, tak punya

ginjal….! Betapa akan menderitanya hidupku ini….!

Jangan risau,

memangnya kamu mau istrimu meninggalkanmu karena kamu miskin? Ayo,

lekaslah jual sepasang kakimu. Tak apa kamu hanya duduk diam di rumah,

asalkan istrimu tetap setia bersamamu… Tenanglah… 

Kini

tanpa ragu, aku menjual sepasang kakiku. Pulang dengan kursi roda dan

mengantongi lebih banyak uang, yakni tiga puluh milyar rupiah!

Bayangkan! Hanya dengan menjual organ-organ tubuh, aku menjadi orang

paling kaya sedunia. Tak perlu bekerja, uang berlimpah. Betapa

bahagianya anak-anak dan istriku yang cantik itu. Mereka tak tahu kalau

aku merindukan kedua tangan dan sepasang kakiku. Aku ingin sekali bisa

berjalan dan memegang banyak benda. Aku ingin meraba halusnya pipi

istriku, dan ingin balap lari bersama anak-anakku. Namun semua itu

hanyalah mimpi.

 

Mereka

seperti kehausan akan harta. Belum juga habis, mereka minta lagi.

Bahkan mereka ingin beli pulau untuk dapat ditinggali secara pribadi.

Beli pulau bukan perkara susah kata anak sulungku. Istriku malah ingin

beli pesawat pribadi untuk ditumpangi tiap akhir pekan ke luar negeri.

Aku miris, bingung mau jual apa lagi?

 

Mata!

Ya, mata! Tapi risikonya terlalu besar, aku tak dapat lagi melihat

wajah cantik istriku. Tak dapat lagi melihat keceriaan anak-anakku dan

aku tak dapat melihat uang-uangku. Seluruh hartaku itu. Lalu untuk apa

aku punya harta kalau tak dapat kulihat?

 

 

Tenang,

kamu masih dapat makan makanan enak, yang penting kamu masih dapat

mencium harumnya parfum istrimu yang cantik itu. Memangnya kamu mau dia

kabur dengan lelaki lain kalau nanti kamu jatuh miskin? Lalu apa kamu

mau anak-anakmu membencimu karena kamu tak dapat memenuhi keinginan

mereka? Suara itu bergema lagi persis seperti dulu ketika aku akanmenjual kakiku. Mata, pasti banyak yang membutuhkan. Tak apalah aku

buta, asal dapat merasakan kehadiran keluargaku. Dan ternyata, Kawan,

harga mata sangat tinggi. Sepasang mataku ini harganya seratus trilyun

rupiah!

 

Apa

kalian pikir, istri dan anak-anakku itu akan puas? Tidak! Mereka masih

minta uang, lagi, lagi dan lagi. Seperti meminum air laut. Selalu

dahaga. Aku frustasi. Aku punya harta, tapi tak dapat menikmati apa-apa.

Kini mataku tak dapat lagi melihat, namun telingaku mendengar suara

istriku bersama suara lelaki lain dan hidungku mencium parfum lelaki

yang berbaur dengan parfum istriku. Oh, Tuhan! Istriku selingkuh!

Rasanya hidup tak lagi punya makna.

 

Aku

merasa seperti Midas dalam cerita yang dikisahkan anak bungsuku. Raja

Midas yang berlimpah emas namun tak bahagia sebab ketika ia menyentuh

anaknya, anaknya berubah jadi emas. Saat ia menyentuh makanan,

makanannya berubah jadi emas. Tiada kebahagiaan. Kini, aku baru tahu

ujung cerita itu bahwa kebahagiaan itu tak bisa dinilai dari harta.

Buktinya sekarang, aku kaya tapi tak dapat menikmatinya. Aku tak punya

lagi kebahagiaan….

 

Akhirnya

aku mengakhiri penderitaanku. Aku kini terbaring di ruang operasi. Aku

akan menjual jantungku. Sudah kusiapkan surat wasiat untuk keluargaku.

Tak ada lagi harapan bagiku untuk bahagia, sebab semuanya sudah binasa.

Jantung ini harganya paling mahal, lima ratus trilyun! Semua, semua

untuk istriku. Barangkali saja untuk membeli gincu….

***

Pejaten, 28 Januari ‘09

Catatan dan komentar tulisan ini ada di https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/393281390705667/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: