//
you're reading...
Asri Supatmiati, Tips Menulis

Tulisan Ini Jelek?

by Asri Supatmiati

Pagi tadi ada pertemuan dengan para penulis artikel dan surat pembaca se-Bogor. Pesertanya 14 orang. Memang tidak semua bisa ikut dengan berbagai alasan. Mula-mula kami sharing mengenai pengalaman menulis selama ini. Ada yang belum pernah menulis sama sekali, ada yang sudah cukup eksis sebagai penulis.

Terbukti, beberapa tulisan sudah ada yang pernah ditayangkan di media massa. Bahkan, ada yang menjadi penjaga rubrik konsultasi pendidikan di Republika online, ada yang menjadi kontributor tetap majalah remaja dan ada juga yang menjadi admin sebuah komunitas yang jumlah member-nya mencapai 60 ribuan. Artinya, potensi-potensi penulis itu ternyata luar biasa.

Nah, ketika ditanya kendala-kendala dalam menulis, yang terungkap umumnya sebagai berikut: pertama, waktu. Menulis artikel atau surat pembaca menjadi aktivitas kesekian yang dilakukan bila waktu memungkinkan saja. Kesibukan lain seperti bekerja, kuliah, urusan dakwah, rumah tangga, dll, kerap menjadi kendala. Malah, ada yang mengatakan hanya menulis jika mendapat amanah/order. Atau, hanya menulis jika sudah ditagih laporannya.

Kedua, kebuntuan ide. Tulisan kerap tidak berhasil dituntaskan karena tiba-tiba “kehilangan” alur menulis. Ada pula yang kesulitan membangun “jembatan” antaralinea sehingga tulisan kurang teralur dengan baik.

Ketiga, kekurangan referensi. Terutama membuat artikel, terasa “kering” karena kurang bahan-bahan pendukung. Keempat, kurang percaya diri dengan tulisan karyanya. Merasa tulisannya kurang bagus, kurang berbobot, dan kurang-kurang lainnya.

Untuk mengatasi kendala di atas, solusi yang saya tawarkan adalah: pertama, komitmen soal waktu. Ketika kita menerima amanah sebagai penulis, berarti kita bersedia menyediakan waktu khusus untuk menulis sampai tuntas. Sama halnya ketika kita berkomitmen mengikuti pengajian dua jam perminggu, mengisi pengajian dua jam perminggu, atau meluangkan waktu untuk kontak dua jam perminggu. Jadi, tentukan deadline untuk diri sendiri. Misalnya, setiap Senin saya harus berada di depan komputer jam sekian sampai jam sekian untuk menyelesaikan satu tulisan sampai tuntas.

Kedua, jika mengalami kebuntuan ide sehingga tiba-tiba tulisan tidak bisa dituntaskan, berhentilah sejenak. Tata kembali outline tulisan. Mungkin perlu tambahan referensi, carilah. Setelah itu, lanjutkan. Evaluasi dan editing kembali.

Ketiga, referensi sekarang bisa didapat dengan mudah jika kita rajin browsing dan membaca. Tidak mengapa menerapkan trik ATM (amati, tiru dan modifikasi). Tulisan akan semakin “bergizi” jika kita semakin sering menulis. Kuncinya adalah jam terbang. Semakin kita sering menulis, semakin mahir.

Sejatinya, tidak ada teori baku dalam menulis sehingga setiap jenis tulisan akan menghasilkan karya yang benar-benar “sama”. Setiap penulis, sekalipun menulis jenis tulisan yang sama, dengan tema yang sama, akan berbeda style-nya. Karena, menulis itu memang subjektif. Tergantung sudut pandang si penulis.

Keempat, PD sajalah. Penilaian bagus-tidaknya tulisan bukan domain penulis, tapi pembaca, redaktur media, editor, atau penerbit. Mereka yang menentukan, apakah tulisan kita enak dibaca, layak dimuat, lolos editing atau layak terbit. Jadi, kalau kita tidak pernah share tulisan kepada pihak-pihak terkait tersebut, bagaimana kita begitu percaya diri mengklaim bahwa tulisan kita jelek? Jadi, menulis sajalah!(*)

Catatan dan komentar seru tulisan ini klik di https://www.facebook.com/groups/391394384227701/permalink/398224753544664/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: