//
you're reading...
Bunda Revolusi, Cerpen

Mas Hartono, Cinta Itu ?

By Bunda Revolusi in Belajar Nulis ·

“Pokoknya Ibu ndak mau tau, kamu harus menikah dengan Hartono. Kurang apalagi dia? Mapan, baik, sholeh bahkan Ibu dengar dia sering dipanggil Uztad dikalangan teman-temanya. Daripada si sopo itu namanya?…”

“Rian bu…”

“Iyya, si Rian itu. Sukanya Ugal-ugalan dijalan ndak karuan. Mau jadi apa kamu sama dia ndok? Kamu itu anak perempuan ibu satu-satunya”

(Hening sekejap)

“Besok, poko’e kamu harus siap dandan yang rapih. Keluarga Hartono mau datang kesini dan kamu harus siap…..”

Suara Ibu yang tidak lepas dengan logat Jawanya itu masih berbunyi bising terdengar ditelingaku, aku hanya diam. Dan pikiranku melayang.

“Ibu, tahukah engkau?  Bahwa  aku sangat mencintai Rian. Dia adalah laki-laki yang sempurna dimataku. Aku selalu bahagia bila dekat dengannya, Rian telah membawa segala yang ku inginkan, keceriian, kenyamanan, kesenangan, semua hal yang sangat membuatku terasa di Syurga. Itulah  Cinta”   dan akupun membantin.

“…..  Diah, kamu dengar ibu ndak?”

Lamunanku buyar seketika

“Iyya bu dengar, tapi bu….”

“Kan sudah ibu bilang tadi ndak ada tapi-tapian. Lawong bapakmu saja sudah setuju. Sudah sana tidur  biar seger besok!”

Malam itu, hujan dikelopak mata membasahi pipiku.

 

***

Dengan berat hati, aku menerima kedatangan keluarga mas Hartono, keluarga yang sangat sopan dan santun, keluarga yang penuh kehangatan. Tapi entah, kenapa aku merasa tidak bahagia bahkan sangat tidak bahagia menerima kedatangan keluarganya. Hatiku menjadi remuk redam saat Bapak menyetujui lamaran yang diajukkan keluarga mas Hartono. Sebagai putri satu-satunya aku hanya terdiam dan sekali mengangguk untuk menyatakan bahwa aku setuju untuk dijodohkan, semua itu aku lakukan untuk menjaga abdiku sebagai putri yang tidak ingin mendurhakai orang tuanya. Ku tatap lelaki yang akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya denganku, tapi…., demi Rabbku yang Maha membolak balikan hati, hatiku tak bergetar sama sekali hatiku bahkan dipenuhi dengan kebencian. Oh jodoh, kenapa kau datang pada orang yang tidak tepat!

Waktu bergulir berganti dari detik demi detik, hatiku seperti ditusuk sembilu. Rian, lelaki yang sangat kucintai tak kunjung bisa kuhubungi, beberapa hari menjelang pernikahan pun dia belum bisa kutemui, walau sudah kutanya kebeberapa temanya bahkan keluarganyapun tak mau memberi tau. Ingin rasanya hati ini berteriak “bawalah aku kabur Rian..!” . Lagi, waktu tak mau berkompromi denganku walau sehari. Beberapa kali mas Hartono datang menemui keluargaku. Dengan hangat dan penuh hormat Ia bertanya mengenai kepribadianku. Sampai akhirnya pertama kali dia bicara denganku

“ Dek  Diah bagaimana? setuju dengan pernikahan ini? Dari awal bertemu saya belum pernah mendengar suara kamu “

“Iya, aku ikut apa kata Ibu dan Bapak saja” jawabku datar

***

Dengan hatii terpaksa aku menerima pernikahan ini.

“SAYA TERIMA NIKAHNYA DIAH PUTRI PRATAMA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI!”

Membeludak air mataku didalam kamar yang sunyi ketika mendengar bahwa aku sudah sah menjadi istri  Mas Hartono. Resepsipun digelar  dan senyum palsu terpasang rapih diwajahku yang terbalut oleh busana pengantin muslimah, semua resepsi yang diatur oleh mas Hartono membuatku sedikit bingung. Aku dan mas Hartono duduk terpisah, kami hanya bisa memandang dari kejauhan, tamu pria dan wanitapun terpisah, semua tamu wanita yang datang kepesta pernikahan menggunakan kerudung. Entahlah, mungkin gelar mas Hartono yang Uztad itu mempengaruhi keadaan.

 

Malam Pertama Itu….

“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumsalam…” jawabku gemetar

Kami berdua kaku, sepasang suami istri yang belum pernah saling mengobrol atau mengenal lebih dekat, hanya dari keluarga saja. Badanku mulai panas dingin dibuatnya, “Ya Alloh, bagaimana ini?” batinku.

“Dik Diah, saya boleh tanya sesuatu?” tanya mas Hartono lembut

“Tanya saja” jawabku dingin

“Dik Diah menerima pernikahan ini secara terpaksa atau…..?”

DEG! Jantungku seakan berhenti mendengar pertanyaan mas Hartono.

“Aku menerima, tapi aku tidak mencintaimu mas. Aku mencintai pria lain, aku mencintai dia lebih dari apapun. Aku…aku….” tangisku meledak, menggerung. Lama…..

Sampai keheningan terjadi…

“Sudah nangisnya?hehehe ….” tanya Mas Hartono, pertanyaan itu sangat ringan tapi membuat aku kesal karena di iringi tawa kecil seolah meledek dan aku hanya diam

“Mau, tenang nggak?”

“maksudnya?” pertanyaan kedua memberiku maghnet untuk menjawab

“Iyya, kamu mau tenang nggak? Sini ikut Mas kekamar mandi”

Mataku melotot seketika dihadapanya

“Eits, jangan mikir kotor dulu ya….!”

Ku ikuti Mas Hartono kekamar mandi, ternyata dia mengajak aku untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, dia menggelar dua sajadah satu didepan dan satu dibelakang.

“Yuk, kita sholat sunnah dulu. Supaya kamu bisa tenang”

Masih aku ikuti perkataanya, kami sholat dengan khusyu’. Begitu nyaring dan merdu suara Mas Hartono mengimami aku sholat, sampai-sampai di rakaat pertama surat Ar Rahman dibaca habis dan aku pun terhanyut oleh bacaannya. ini adalah malam pertama aku sholat bersama suami yang belum aku cintai, orang asing yang telah memiliki seluruh sisa hidupku. Selesai sholat, suamiku itu berdo’a :

“Ya Alloh Ya Rahman Ya Rahim,  yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang maha besar lagi maha bijaksana, yang maha kuasa lagi maha melihat, yang maha pengampun laki maha mengetahui. Terimakasih telah memperjodohkan hamba dengan wanita yang begitu istimewa, karena setiap apa yang Engkau berikan untuk hamba adalah istimewa. Ya Rabb, yang nyawa iini berada digenggamanMu, jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah, biarkanlah bunga cinta bersemi dalam RidhoMu dan dalam kecintaanMu terhadap kami. Jadikanlah setiap detik, menit dan jam sebagai saksi bahwa tiada kecintaan melebihi cinta kami kepada Mu, RasulMu, dan agamaMu. Biarkanlah hamba mengisi ruang kecil hati istri hamba seorang diri, be begitu pula sebaliknya Ya Rabb, biarkanlah ruang kecil di hati ini hanya di isi oleh wanita istimewa dibelakang hamba ini. Bimbinglah hamba agar selalu bisa membimbingnya dengan cinta, kasih dan sayang, berikanlah istri hamba kesabaran dalam mengarungi bahtera cinta suci ini. Cinta yang dengan izinMu melangkah keSurga…..”

Air mataku tak terbendung, dengan seuntai Do’a yang dipanjatkanya malam itu, akupun mulai mencintainya. Cinta karena Rabbku. Cinta untukmu mas Hartono…

Pembelajarannya: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/400468959986910/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: