//
you're reading...
Dian Ist Undhie, Inspirasi

Mess Malahayati

By Dian Ist Undhie in Belajar Nulis

Sore itu saya dan Kak Miyah tengah tersesat, tidak mendapat jalan masuk menuju Pelabuhan Paotere, Makassar. Maklum, sudah sangat lama saya berkunjung ke sana dan tidak pernah datang lagi hingga beberapa tahun belakangan ini. Karenanya, saya tak begitu ingat rutenya dan begitu simpang siur petunjuk jalan yang kami terima saat bertanya  kepada para penduduk yang ada di sekitar tempat itu. Mulai dari yang menyuruh terus jalan lurus ke depan hingga yang mengatakan bahwa kami sudah lewat. Ah, lucu dan terasa ‘memprihatinkan’ memang, bertahun-tahun tinggal di Makassar, nyatanya tak membuat saya banyak tahu secara detail tentang rute beberapa tempat bersejarah di Kota Daeng ini.Akhirnya, setelah capek muter-muter, bahkan sempat tiba di sebuah pasar, kami akhirnya memilih berbalik. Seingat saya, dulu saat saya berkunjung, tidak sampai sejauh ini saya naik becak, baru tiba di pelabuhan tradisional peninggalan Kerajaan Gowa ini. Akhirnya, lagi-lagi pada seorang tukang becak, kami bertanya untuk terakhir kali. Jika penjelasannya nanti akan semakin membuat bingung, saya sudah mulai ingin menyerah, “kita pulang saja,” kata saya pada Kak Miyah. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 17.00. dan tempat tinggal kami cukup jauh juga dari wilayah Paotere ini. Bagaimanapun, saya  takut kemalaman. Kak Miyah juga begitu. Untuk itulah, dia juga sudah punya gelagat akan menyerah sejak awal kami tersesat.

Daeng becak itu, lagi-lagi menunjukkan arah asal kami datang sebelumnya. Artinya mesti berbalik lagi. Kami berpandangan. Jika harus seperti itu, kami sepakat akan pulang. Ah! Tidak serunya perjalanan ini jika harus kembali sebelum mencapai tujuan, hanya gara-gara tersesat. Tapi untunglah, sebelum memutuskan untuk pulang, dia menunjukkan jalan lain. Dan tak menunggu lama, kami akhirnya meluncur melewati jalan yang sudah dia tunjukkan. Berhubung saya yang mendengar instruksinya, maka sayalah yang bertanggungjawab menjadi petunjuk jalan. Dalam hati, saya was-was juga…, mudah-mudahan bisa ingat… ”lampu merah, belok kanan, masuk terowongan, lalu belok kanan lagi..” saya mencoba menghafalnya. Dan bahaya…  begitu keluar dari terowongan, saya lupa lagi, mesti belok ke kanan atau ke kiri. “Belok kanan saja, Kak!” akhirnya kata saya pada Kak Miyah dengan tidak terlalu yakin. Tapi Alhamdulillah,  beberapa puluh meter kemudian, kami memang menemukan petunjuk jalan yang menuju ke pelabuhan Paotere. Senyum saya mengembang…

Lalu…

Yang masih terbayang di benak saya tentang Paotere adalah adanya kapal-kapal phinisi yang tengah berjejeran di dermaga. Juga para awak kapal yang tengah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama dalam pelayaran. Namun, tak ada yang terlihat di tempat ini. Yang saya lihat adalah kesibukan antara pembeli dan penjual menyepakati harga ikan yang bertebaran di tempat itu. Hoho.. inilah tempat pelelangan ikan di kota Makassar. Bau amis menyebar….

“Ini yang mau kau kunjungi, Di?” tanya kak Miyah.

Dengan sangat o’on segera saya jawab:

“Waduh, bukan yang ini, Kak. Yang dulu kudatangi tidak begini.” Di benak saya, masih membayang tiang-tiang pancang kapal nelayan yang segera akan berlayar. Suer, saya menjadi sangat bingung, memang jalan masuk ke Paotere ini ada berapa tempat? Atau Paotere sudah terbagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian? Atau memang saya yang sangat tidak tahu perkembangan dan perubahan yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini? Atau memang saya sudah salah jalan sejak awal?

Akhirnya Kak Miyah keluar dari kawasan pelelangan ikan itu. Lalu belok kanan mengikuti jalan yang rindang oleh pepohonan. Jalannya tak selebar di tengah kota, tapi terlihat besih dan asri. Dan saat tengah mencari-cari jalan dan mencoba mikir-mikir ulang tentang Paotere itulah, tiba-tiba mata saya tertumbuk papan nama yang terpajang di depan sebuah mess di sekitaran Pangkalan Utama TNI AL VI Makassar. Pada papan bercat putih itu, tertulis jelas sederet kata berwarna hitam: Mess Malahayati.

Setelah melihatnya, meski motor sudah melaju terus ke depan, saya masih menatap ke belakang. Bahkan hingga leher saya terasa sakit, dan saat tulisan itu sudah tak nampak barulah saya mengalihkan pandangan.

Malahayati”, hmm… sepertinya saya pernah membaca profil singkatnya. Dan mendapati namanya diabadikan di kawasan bergengsi Pangkalan Utama TNI AL VI yang membawahi beberapa wilayah di Indonesia Timur ini, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dia bukan sosok ‘sembarangan’ dalam dunia ‘kelautan’. Saya kian yakin pula, bahwa sejarah tentangnya adalah benar adanya. Bahwa dia adalah sosok yang luar biasa.

Dan saya kira, di negeri ini-juga di tempat lain- mengabadikan nama seseorang menjadi icon suatu tempat, berarti mengenang ‘kebesarannya’, jasa-jasanya, juga bahkan heroisme yang dia miliki di masa lalu. Mengabadikannya, berarti juga berharap bahwa generasi-generasi setelahnya bisa mencontoh keberanian dan perjuangan yang pernah dilakukannya. Dan begitu juga dengan Malahayati. Nama yang bersejarah, dengan jejak yang bersejarah dan heroik. Siapa dia sebenarnya?

Dia adalah Laksamana Keumalahaty. Laksamana (admiral) perempuan pertama di dunia! Sebuah gelar tertinggi dalam kepangkatan Angkatan Laut.

Bagi sebagian orang, boleh jadi, namanya sudah tidak asing lagi. Terlebih bagi lingkungan Angkatan Laut. Tapi bagi sebagian besar orang lagi di negeri ini, mungkin mendengar nama apalagi mengetahui sejarahnya, ada kemungkinan tidak pernah sama sekali. Saya sendiri, dari tingkat TK sampai kuliah bahkan tidak pernah mendengar namanya, kecuali nama-nama yang mirip seperti Nurhayati, Hidayati, dan Haya-haya lainnya. Yup, namanya memang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah yang kita pelajari pada jenjang pendidikan formal. Padahal, dia adalah seorang pejuang yang kehebatannya dan ketangguhannya diakui oleh sejarawan dunia.

Malahayati adalah satu dari sekian Laksamana perempuan asal Tanah Rencong. Merupakan putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya  adalah Laksamana Muhammad Said Syah, yang merupakan putra dari Sultan Salahuddin Syah (1530-1539). Salahuddin Syah  sendiri adalah putra Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530), pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Keumalahayati memimpin armada pasukan yang disebut Inong Balee yang diperkuat oleh 1000 orang pasukan. Anggota pasukannya terdiri dari para janda yang suaminya sudah syahid ketika kesultanan Aceh bertempur melawan Portugis. Pada perkembangan selanjutnya disebutkan bahwa kekuatannya sebanyak 2000 orang. Armada yang dipimpinnya ini menjadi kekuatan tersendiri di Asia Tenggara. Lalu, di tangan Keumalahayati, Coernelis de Houtman yang berniat menjajah Aceh dan juga orang yang pertama kali menjejakkan kaki di Tanah Rencong mati terbunuh. Awalnya ramada Belanda pimpinan de Houtman diterima baik seperti pada umumnya kedatangan mereka di berbagai tempat di nusantara karena ditujukan untuk berdagang. Namun kelicikan mereka tercium juga dan ketahuan ingin menjajah. Dan Keumalahayati diutus untuk menggempur pasukan Belanda yang berakhir dengan kematian de Houtman.

Laksamana Keumalahayati!

Dia adalah sosok pemberani, yang tak membiarkan negerinya terjajah. Pantaslah jika namanya ‘diabadikan’ untuk mengenang jasa-jasa dan ketangguhannya. Lebih dari itu, bagi kaum perempuan, Keumalahayati alias Malahayati adalah inspirasi. Ya, inspirasi untuk memberi andil bagi perjuangan membela agama Allah….

Saat akan mengakhiri tulisan ini, saya teringat bincang-bincang singkat saya dengan seorang petugas patroli di atas KRI Birang 831, sekitar 30 menit setelah saya melihat papan Mess Malahayati itu. Tentang kenapa saya dan Kak Miyah ada di atas kapal patroli itu, adalah cerita ‘ketersesatan’ lain, yang tidak pernah sama sekali saya bayangkan.

Kepada pasukan yang tengah berjaga di kapal itu, bak seorang wartawan, saya bertanya tentang jenis kapal, kapasitas, dan dipakai apa saja tuh kapal. Setelah dia menjawab, lagi-lagi dengan o’on, saya juga bertanya, “kenapa nggak pergi perang?” Dan dengan diplomatis dia menjawab, “kita kan, nggak sedang dalam kondisi perang,” katanya. “Dan gimana juga kalo saya tertembak..” katanya lagi nyengir. Entah bercanda beneran atau memang murni rasa takut untuk mati jika atau terjun ke medan perang. Dalam hati saya, sempat terlintas…”Wah, tentara kita pada takut mati rupanya…”

Jika memang seperti itu, maka di sinilah peran sosok Malahayati. Keberaniannya, harusnya juga menjadi inspirasi, juga mestinya diwarisi oleh para TNI AL khususnya, dan tentara pada umumnya, sehingga namanya tak hanya sekedar  diabadikan sebagai nama mess yang ditinggali oleh para tentara negara ini….

***

Pekan terakhir April, 2012

Pembelajarannya: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/398195660214240/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: