//
you're reading...
Emma Kaze, Wawasan

Schyzophrenic Syndrome

By Emma Kaze in Belajar Nulis ·

Kawan, globalisasi ekonomi sebagai manifestasi kapitalisme saat ini makin tidak tercegah. Pasar global sebagai arena terpopuler kini mengikat masyarakat sedunia. Atas nama modal, masyarakat kapitalis terjebak dalam labirin persaingan yang membabi buta. Perusahaan-perusahaan multinasional (Multinational Corporations) bersaing menunjukkan taring, demi menggaet hati konsumen dengan beribu strategi produksi dan marketing. It’s all about packaging and marketing!!!, katanya. Berbagai bentuk iklan variatif pun dilandingkan. Dengan dukungan canggihnya teknologi, masyarakat dihipnotis.

Kebutuhan tidak lagi bersifat material, tetapi lebih bersifat simbolik. Nilai tukar dan nilai guna barang telah berganti dengan lambang atau nilai simbol. Masyarakat kebanyakan berpikir memakai Gucci daripada jam tangan, mengenakan Sophie Martin daripada tas, dan tidak lagi merasa memakai sepatu tetapi memakai Yongki Komaladi. Dengan seperti itu, masyarakat tidak ambil pusing dengan nilai fungsional-peruntukan barang yang dibeli dan nilai ekonomisnya  -setinggi apapun harganya pasti dibeli dah-, asalkan mereka mendapatkan satu hal: Puas! Puas! Puas! Satisfied! Logika hasrat (desire) dan keinginan (want) jauh lebih dominan ketimbang logika kebutuhan (need). Hasrat telah blak-blakan mengambil alih posisi rasio seseorang dalam bertindak. Inilah KONSUMERISME, kawan!

Memang tidak salah kalau dikatakan bahwa masyarakat konsumeris adalah sasaran empuk bagi para kapitalis atau pemilik modal. Yes, it’s true! Mereka (masyarakat konsumeris) tidak –akan- pernah memikirkan efek yang akan menimpa mereka, baik efek jangka pendek or jangka panjang. Didalam masyarakat konsumeris, kebutuhan yang ada pada diri mereka sebenarnya telah termanipulasi. Kebutuhan tersebut sebenarnya adalah kebutuhan semu. Palsu!! Mereka tidak tahu kenapa butuh barang tersebut. Dorongan untuk membeli dan memakainya tidak sungguh-sungguh timbul dari dalam dirinya sendiri, tapi cuma sekedar melihat orang lain berbuat begitu. Membebek! Bahkan seakan tidak berdaya menolak untuk membeli barang tersebut.

Skizofrenik! Ya, skizofrenia (Schyzophrenic) adalah istilah tepat untuk mengilustrasikan gimana sebuah hasrat telah menguasai diri masyarakat kapitalis. Mereka yang telah terkontaminasi penyakit ini tidak lagi mampu mengontrol kesadarannya. Kesadarannya terbelah dan tersayat-sayat, sehingga tidak lagi mampu mengendalikan tindakannya. Mereka begitu terobsesi sedemikian rupa. Tergila-gila dan menggila! Ketika membeli sebuah produk tertentu, mereka tidak lagi memakai logika untuk apa membeli produk tersebut, apalagi jika dibarengi dengan iming-iming big sale atau cuci gudang akhir tahun! Weleh..! Budaya konsumerisme telah menciptakan ‘konsumen skizofrenik’, yaitu para konsumen yang larut dalam kegilaan pergantian produk, gaya, dan prestise tanpa mampu lagi menemukan kedalaman arti untuk apa mereka melakukan hal itu.

Sistem ekonomi kapitalisme pun telah membawa masyarakat ke dalam dunia hyper (melampaui batas, menuju titik ekstrim, bahkan bisa lebih jauh lagi): produksi berkembang ke arah hyper-production (produksi yang melampaui kapasitas dan batas konsumsi), konsumsi berkembang ke arah hyper-consumption (konsumsi yang melampaui kebutuhan manusia), pasar berkembang ke arah hyper-market  (pasar yang melampaui fungsi sebagai arena transaksi barang dan jasa), komoditi berkembang ke arah hyper-commodity (komoditi yang melampaui alam komoditi) dan komunikasi berkembang ke arah hyper-communication (komunikasi yang melampaui fungsi komunikasi itu sendiri).

Naluri konsumtif manusia difasilitasi dan dimanjakan untuk mengikuti arus yang serba hyper itu. Naluri tersebut tidak terbendung lagi. Sekali lagi, masyarakat tidak berdaya menolaknya. Konsumsi yang dilakukan nyaris tanpa makna. Sebab, pada dasarnya logika hyper tidak menghendaki adanya perenungan (contemplation)  akan sebuah makna.

Selain itu, spirit logika ‘kecepatan’ dari kapitalisme global yang bermakna kebutuhan bagi percepatan dalam perputaran dan akumulasi kapital, telah berhasil menciptakan tempo konsumsi yang tinggi. Jiwa kapitalisme global yang terus memproduksi ‘konsumsi’ itu sendiri dengan sigap mempertahankan agar kapitalisme terus langgeng. ABADI! Memproduksi ‘konsumsi’!! Ya, menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial. Masyarakat secara sosial dibentuk, misalkan, bahwa memiliki barang mewah adalah kebutuhan. Berkembanglah masyarakat menjadi manusia hedon! Hedonisme yang mengklaim diri dengan sebuah pemahaman bahwa kesenangan diri sendiri is number one, sementara tujuan sosial dan kepentingan orang lain tidak lagi menjadi pertimbangan. Nobody care about it! Benar-benar kapitalisme terbentuk  dan –sekaligus- membentuk individualisme tidak berjiwa! Be selfish person..

Untuk hal tersebut, Jonathon Porritt dalam Seeing Green; the Politics of Ecology Explained (1990) mengatakan bahwa kapitalisme global dibangun di atas landasan filsafat materialisme tidak berjiwa (mindless materialism). Maksudnya, sebuah keyakinan yang kering, yang meyakini bahwa kekayaan material adalah sumber kebahagiaan dan tujuan hidup, dan kehidupan tidak akan bermakna tanpa pemenuhan materi. Sedangkan Donella Meadows dalam Beyond the Limits: Global Collapse or a Sustainable Future (1996) memakai istilah overshoot untuk menjelaskan pertumbuhan kapitalisme global yang telah melampaui tapal batas yang seharusnya tidak ia lalui, yang menggiring kehidupan bumi menuju kehancuran. Sumber daya alam dikuras habis, seakan-akan bumi menyediakan sumber daya unlimited dan selamanya!

Maka sejatinya, jalan satu-satunya untuk mencegah kehancuran global adalah dengan cara mengubah pandangan dunia secara mendasar. Dari materialism-schyzophrenic society menuju sebuah masyarakat global yang TIDAK LAGI GILA, dimana masa depan tidak lagi tergantung dengan indikator-indikator pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya bias! Dari materialism-schyzophrenic society menuju sebuah paradigma masyarakat yang lebih mementingkan ‘kesejahteraan sosial’ ketimbang pada angka-angka fiktif rata-rata pertumbuhan ekonomi. Menuju sebuah nilai hidup yang memuliakan setiap yang bernyawa dan [tidak tak] berjiwa (mindfull ideology).

Masihkah tetap bangga menjadi masyarakat konsumeris-skizofrenik????

Maka, menjadi gila-lah dengan tetap memilih kapitalisme sebagai ideologi, kawan!!

Hidup gila!!! >.<[]

Pembelajarannya: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/400335776666895/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: