//
you're reading...
Chicken Soup, Dian Ist Undhie

Daeng Ratu

Postur tubuhnya lumayan gemuk dengan warna kulit mendekati coklat tua. Pertama kali mengenalnya ketika amanah dakwah saya berpindah dari kampus almamater menuju masyarakat umum. Dari pertama kali berjumpa, saya sukses menduga bahwa ekonomi keluarganya biasa-biasa saja, terlihat dari gaya berpakaian dan semua aksesoris yang biasa dikenakannya. Pendidikannya pun bisa saya tebak bukan berasal dari suatu kampus tertentu, tepatnya tak pernah mengenyam pendidikan universitas. Mungkin saja hanya sampai pada suatu level sekolah tertentu. Tapi satu hal yang pasti, dia sekarang adalah pembelajar yang selalu haus ilmu, meski di usia yang mungkin sudah lebih setengah abad. Lebih dari itu, dia selalu bicara sederhana dan apa adanya, dalam konteks dia yang masih awam dan masih harus belajar lebih banyak lagi.

Paling sering, saya bertemu dengannya satu kali dalam seminggu, atau sesekali lebih dari itu jika ada kegiatan beruntun yang kebetulan memang mempertemukan kami. Kadang-kadang dia datang sendiri, atau berdua dengan anak bungsunya, Malik, yang baru berumur sekitar lima tahun. Dan tiba saatnya, beberapa minggu setelah ‘Idul Fitri 1432 H, pertemuan mingguan kami berpindah dari rumah teman yang satu ke rumah lainnya. “Sebagai ajang silaturrahim dan mumpung masih banyak kue lebaran,” alasan saya jahil saat memberi usulan. Dan jadilah pertemuan diadakan di rumahnya, dan dia sendiri ditunjuk sebagai pemateri. Kebetulan waktu itu kami juga tengah rolling pemateri, sebagai ajang pembelajaran bagi semua tim tanpa terkecuali.

Saya duduk tepat di hadapannya. Dan mulailah ia membuka majelis dan merangkai kata menjadi kalimat untuk memaparkan materi yang dia tentukan sendiri judulnya. Kami tak banyak hadir sore itu, tak lebih sepuluh orang. Dan dia memang menjadi fokus perhatian, selain karena menjadi pemateri sekaligus tuan rumah, juga duduk tepat di bagian tengah majelis yang membentuk huruf U. Lengkaplah sudah, kaimat demi kalimat yang meluncur dari mulutnya menjadi hal yang kami tunggu-tunggu.

Beberapa lama setelah dia mulai, saya meyakinkan diri bahwa semua yang hadir dalam kondisi tertunduk. Mata saya juga lekat menatap karpet pengalas lantai. Tidak berani menatap wajahnya begitu mulai memaparkan materi. Namun, bukan karena kami khusyu’, tapi lebih karena kami mencoba tidak menatap satu sama lain karena takut tawa kami akan meledak. Saya sendiri, berkali-kali menggigit bibir sangat keras, untuk menghilangkan mimik kalau saya ingin sekali tertawa. Nafas saya naik turun karena berusaha menahan tawa.

Tidak ada yang lucu sebenarnya. Keinginan kami untuk tertawa lebih kepada  ketidaklaziman mendengar kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang bercampur-campur dengan logat Makassar yang teramat sangat kental dan kadang-kadang juga ‘okkots’ (misalnya kata yang menjadi yan=hilang huruf g-nya). Dan inilah gaya Daeng Ratu berbicara. Akhirnya mungkin beberapa diantara kami termasuk saya cukup sulit untuk mencerna ucapannya atau mengambil makna yang tersurat atau tersirat dari setiap kalimatnya. Apalagi setelah mengingat dua orang baru yang hadir saat itu, satu dari Aceh, dan satunya dari Bau-bau, Sulawesi Tenggara.

Namun, tidak mungkin juga saya terus-terusan menatap lantai. Sungguh bukan tipe saya tidak menatap lawan bicara atau sekarang dalam hal ini pemateri. Maka, setelah berhasil melewati masa-masa kritis untuk menahan tawa, saya mulai mengangkat wajah. Saya tatap wajah Daeng Ratu dengan penuh keberanian. Dan benar, rasa ingin tertawa saya seketika lenyap, dan… beberapa saat kemudian, saya terbawa perasaan, emosi saya ikut teraduk, dan perlahan sebuah sungai kecil mulai mengalir dari pelupuk mata saya.

Daeng Ratu menangis di sela-sela rentetan kalimatnya. Dan menyentuhnya, yang dia tangisi adalah anak perempuannya yang belum juga mau menutup aurat. Subhanallah! Begitu kata hati saya berkali-kali. Daeng Ratu yang saya kenal adalah orang baru. Dan di tempat pengajian ini, dia juga orang baru. Kiranya bukan suatu hal yang kurang ajar jika saya menafsirkan bahwa pemahaman agamanya dan juga pemikiran-pemikiran Islam yang dimilikinya juga masih awam dan minim. Setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa orang yang juga hadir di rumahnya saat itu. Namun, kali ini, juga setelah beberapa lamanya berinteraksi dengan Daeng Ratu, semakin membuktikan dan menguatkan hipotesis yang diam-diam saya bangun sendiri setelah mengenal dan berkali-kali bertemu dengannya, bahwa semangatnya sungguh membara dalam menyampaikan dan melaksanakan hukum syara’. Baik pada keluarganya maupun lingkungan sekitarnya.

Sambil mendengar suaranya yang masih bercampur dengan tangis, saya mengarahkan pandangan ke sedikit halaman rumah yang langsung berbatasan dengan jalanan. Di sana, seorang perempuan muda mengendarai motor menuju jalanan. Dari raut mukanya, saya menebak, mungkin inilah anak Daeng Ratu. Rambutnya tergerai, baju kaos lengan pendek agak ketat membalut tubuh bagian atasnya diikuti dengan celana jeans yang setengah ketat. Pantas saja Daeng Ratu menangis, pikir saya lagi.

Dari ceritanya, berkali-kali dia memahamkan anaknya bahwa menutup aurat itu adalah kewajiban, namun masih juga belum dijalankan. Tentu saja, selain meminta anaknya untuk ikut ngaji seperti dirinya. Dalam hal ini, tentu saja Daeng Ratu sangat memahami bahwa sebagai seorang ibu, kelak dia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang anak-anak yang diamanahkan padanya. Dan dia ingin, bahwa anak-anaknya menjadi sholehah, tunduk pada aturan Penciptanya.

Rangkaian pengajian itupun berakhir dan kami semua harus berpisah. Namun meski sudah berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya masih terpikir oleh suasana itu. Saya membayangkan, betapa beruntungnya anak-anak Daeng Ratu, punya ibu yang mengajari mereka menjadi sholehah untuk bekal kebahagiaan di akhirat sana. Betapa beruntungnya mereka, punya ibu yang menyayangi mereka bukan hanya dengan memenuhi semua kebutuhan duniawinya, tapi juga mengajari bagaimana menjalani kehidupan dunia fana ini dengan benar untuk menyongsong hidup akhirat yang abadi. Dan ngomong-ngomong, sempat terlintas di benak saya, “untung juga saya tak bandel-bandel amat dulu, jadi tak perlu membuat ibu saya menangis hanya untuk menyuruh saya menutup aurat…”

Daeng Ratu, di mata saya adalah sosok lain yang berbeda dari sekian banyak ibu yang bangga dengan kemolekan tubuh anaknya, lalu dengan tanpa dosa pula membiarkan mereka mengumbar ‘aurat demi membuat mata laki-laki kian terbelalak liar menatapnya. Di tengah banyaknya para ibu yang begitu puas dan bahagia memenuhi segala kebutuhan dan prestise hidup anaknya, Daeng Ratu adalah sosok ibu yang hanya mengharapkan anaknya menjadi sholehah. “Saya tidak mengharap apa-apa darimu, Nak. Saya tidak mengharap uangmu (hasil kerja anaknya). Yang saya inginkan adalah kau mau menutup ‘aurat dan terikat dengan hukum-hukum Allah.” Begitu katanya. Lalu, dalam kapasitas ilmunya yang masih terbatas, tak henti-hentinya dia mengajari anaknya bagaimana semakin dekat dengan Pencipta.

Sekitar dua minggu kemudian, saya bertemu lagi dengannya di kegiatan yang sama, kali ini di rumah salah seorang tokoh muslimah yang memang seringkali kami tempati untuk kegiatan ini. Saat dia datang, saya masih sementara shalat ashar, dan sayup-sayup saya dengar dia sedang sakit kepala. Dan begitu selesai shalat, saya melihatnya memang dalam kondisi yang kurang fit. Dan tiba-tiba Kak Etung yang merupakan pembinanya nyeletuk.

“Daeng Ratu itu, sakit kepala karena sakit hati.” Saya agak sedikit terkesiap juga dengan celetukan menuduh yang tiba-tiba itu. Tapi saya mencoba memahami bahwa Kak Etung adalah pembina Daeng Ratu yang setidaknya cukup tahu apa masalah Daeng Ratu. Dan memang beberapa detik kemudian dia kembali menjelaskan maksudnya.

“Sakit hati karena anaknya belum mau pake kerudung,” katanya lagi. Oh! Masih tentang itu. Luar biasa, pikir saya. Tapi bagaimanapun, seperti yang dikatakan Kak Etung, untuk tidak  terlalu ‘merisaukannya’, biarkan mereka berproses dulu, sembari tetap diberitahu dan dido’akan semoga hatinya segera terbuka untuk menjalankan kewajiban. Hati saya mulai paham. Namun sisi hati saya yang lain juga berbisik, hati ibu (yang sudah paham) mana yang tidak risau melihat anaknya belum juga mau tunduk pada Ilahi.

Dua hari kemudian, menjelang larut malam saya menerima pesan amanah menggantikan seorang teman untuk mengisi pengajian anak-anak remaja di rumah Daeng Ratu besok paginya. Jujur saja, amanah yang dadakan itu, tak urung membuat saya agak ‘malas-malasan’ menerimanya. Tapi bagaimanapun, saya terima juga karena memang untuk jam yang disebutkan, saya belum punya agenda.

Tiba di depan pintu rumah Daeng Ratu, sudah terbersit di benak saya untuk pulang saja karena sudah memberi salam tiga kali toh tidak ada juga yang keluar ‘menyambut’ saya meski pintunya terbuka lebar. Sesekali terlihat hanya melongok kepala anaknya yang mungkin berumur sekitar 10 tahun dari dalam rumah, dan jarak yang cukup jauh rasanya tidak memungkinkan saya untuk berteriak menanyakan dimana ibunya. Hingga beberapa saat kemudian, keluarlah perempuan muda, baru pertama kali saya melihatnya, dan mempersilakan saya masuk. Dia sendiri langsung masuk kembali ke dalam ruang keluarga tempat suara tv terdengar bercakap-cakap.

Saya duduk di sofa coklat muda. Daeng Ratu belum juga keluar. Saya mulai bosan menunggu. Apalagi rasa kantuk juga mulai menyerang saya. Tidur saat malam sudah cukup larut akhir-akhir ini, membuat saya cepat mengantuk di pagi hari. Namun, sekuat usaha saya menahan kantuk saya yang kian berat, ditambah lagi dengan tidak muncul-munculnya tuan rumah. Dan saat mata saya sedikit mulai terpejam, tiba-tiba dari arah halaman berkebat bayangan seseorang. Masih duduk di sofa, saya ‘mengintainya’ dari jendela kaca ruang tamu Daeng Ratu. Oh, ternyata Daeng ratu sendiri. Hm…artinya dia memang tidak ada di rumah sejak saya datang. Dan belakangan saya tahu, dia keluar rumah untuk mengingatkan anak-anak remaja yang akan ikut pengajian pagi itu. Sekalian memberi tahu ibu-ibu di lingkungan RT-nya untuk mengikuti pengajian Majlis Taklim sore hari nanti, juga di rumahnya.

Beberapa saat kemudian dia meninggalkan saya di ruang tamu, lalu masuk ke dalam rumah. Kembali, untuk beberapa lama saya sendiri lagi di ruang tamunya. Saya menyandarkan kepala di sofa coklat miliknya. Dan secara otomatis menghadap langit-langit rumah yang beratap asbes tanpa plafon. Dengan jelas saya bisa melihat ‘kerlip-kerlip’ bintang dari beberapa lubang asbes yang mulai menua. Dan setelah itu, kantuk saya tak tertahankan. Saya mencoba memejamkan mata, dan nyaris tidur ketika terdengar salam diikuti seorang remaja perempuan berkerudung coklat.

“Ini anakku juga.” Kata Daeng Ratu. Sebelumnya ada juga anak pertamanya yang sudah siap mengikuti pengajian ini, namun masuk kembali setelah ibunya juga masuk rumah.

“Ini juga satu,” katanya memperkenalkan remaja berkerudung putih, sepertinya lebih muda dari yang berkerudung coklat. Anak Daeng Ratu ada berapa sih?

Belakangan saya tahu, Daeng Ratu berjumlah tujuh orang. Subhanallah! Lima orang pertama adalah perempuan, dan dua orang paling akhir laki-laki. Saya baru paham, pantas saja tugasnya cukup berat untuk menyuruh satu demi satu anak perempuannya menutup ‘aurat.

Menjelang tengah hari, pengajian remaja itu selesai. Anak-anak yang ikut langsung berhamburan meninggalkan tempat. Dan kini berganti dengan Daeng Ratu yang menemani saya menikmati minuman yang disediakannya. Dan tak terduga, cerita demi cerita mengalir deras dari lisannya. Dan tentu saja semakin membuka tabir pengetahuan saya tentang Daeng Ratu dan kehidupannya.

Pertama-tama dia mengungkit perkataan Kak Etung beberapa hari lalu yang mengatakan dia sakit hati.

“Dan benar memang apa yang dikatakannya. Saya sakit kepala karena sakit hati.” Katanya. “Anak-anak saya belum mau menutup ‘aurat dengan sempurna.” Lanjutnya.

“Sabar, Bu. Terus saja do’akan mereka semoga cepat dibukakan hatinya oleh Allah.” Hanya itu ujar saja.

Lalu, ceritanya berlanjut pada anak ketiganya-ternyata remaja berkerudung coklat itu-yang sudah tamat SMA tahun ini, tapi tidak melanjutkan sekolah. Ani, nama anak itu, rencananya akan memasukkan lamaran kerja di sebuah dealer motor tidak begitu jauh dari kompleks rumahnya. Beberapa saat saya diam, membayangkan transaksi-transaksi batil dalam dunia jual beli motor saat ini, atau yang sering disebut dengan leasing. Dalam benak saya, jika kerja di tempat seperti itu, bukankah juga akan menjadi saksi atas berlakunya penyalahan hukum-hukum syara’? Akhirnya meski agak ragu karena sedikit takut menyinggung perasaannya, saya berujar juga.

“Kayaknya tidak boleh juga  kerja disitu, Bu. Pakai transaksi riba di sana.” Kata saya. Diluar dugaan, saya menangkap mimik Daeng Ratu seakan baru teringat akan pengetahuan yang pernah dilupakannya. Dan sepertinya dia tidak terlalu tertarik lagi untuk membiarkan anaknya melanjutkan lamaran di tempat itu.

Satu gelas minuman sudah sukses tumpah ke tenggorokan saya. Saya akan pamit pulang, ketika tiba-tiba dari pembicaraan tentang leasing itu, dia tiba-tiba berujar.

“Dulu, Dek, ada juga saya punya koperasi di sini.” Katanya.

“Oh ya?” saya mulai tertarik lagi melanjutkan pembicaraan dan jadi lupa pamit. Insting saya yang cukup gemar mengoleksi kisah hidup orang membuat saya menahan diri untuk tidak pulang dulu. Malah memperbaiki duduk saya.

“Saya juga punya beberapa pekerja dulu.” Saya makin tertarik.

“Uang, cukup banyak yang saya pegang setiap harinya. Hasil transaksi koperasi dan menagih para pengutang. Tapi itu uang panas, Dek. Ada bunganya.” Saya mengangguk-anguk. Kian terhujam perasaan salut saya terhadap Daeng Ratu.

“Ada juga mobil dulu di sini, Dek.” Ceritanya lagi.

Mulut saya membundar sambil tentu saja cukup terkejut. Melihat kondisinya sekarang, nyaris saya tidak percaya rasanya kalau Daeng Ratu dulu pernah memiliki mobil. Dalam pikiran saya, menebak-nebak mungkin karena itulah suaminya pintar menyetir mobil.

Dari ceritanya juga, banyak godaan yang diperolehnya untuk kembali membuka koperasi yang dulu sudah dijalaninya. Tapi dia tetap bergeming.

“Biar sedikit, Dek, yang penting berkah.” Katanya. Saya mengangguk-angguk mengerti.

Cerita-cerita berikutnya, kadang membuat saya terkekeh karena cukup lucu ekspresinya saat bercerita. Kadang-kadang juga hanya bisa menganguk-angguk karena sungguh ceritanya dicampur aduk dengan bahasa asli Makassar yang sama sekali tak saya mengerti. Hanya beberapa kata saja yang saya pahami dan akhirnya membuat saya berpikir keras menyambung-nyambungkan inti ceritanya.

Cerita-cerita terakhirnya, tentang ibu-ibu di lingkungan RT tempat tinggalnya yang cukup ‘bandel’ tidak mengikuti program yang sudah dijalankan di RT itu. Maklum, suami Daeng Ratu sendiri adalah RT di sana. Jadi, Daeng Ratu memang cukup berpengaruh di mata ibu-ibu di sana. Selain berpengaruh, dia juga ditakuti karena keberaniannya mengatakan kebenaran pada siapapun dan dimanapun, tak peduli kepada kalangan yang biasanya orang-orang menaruh hormat karena kekayaan dan kekuasaannya.

Seorang warganya yang bekerja sebagai buruh cuci meminta pendapat, bagaimana jika si bos melarang dia berkerudung. Dengan ‘ganas’ Daeng Ratu berujar.

“Memang kau dilarang pake kerudung di sana?” dia memastikan.

“Hehe, tidakji Daeng Ratu,” kata pembantu itu nyengir. Mungkin juga takut kalau Daeng Ratu datang melabrak bosnya dan akhirnya membuatnya hilang pekerjaan.

“Kalau nanti kau dilarang, biar saya datangi nanti rumah bosmu. Enak-enaknya mau larang kau berkerudung.” Katanya pada sang buruh cuci. Untunglah hal itu kemudian tidak pernah terjadi.

Masih tentang warganya, pagi itu dia berkeliling untuk mengingatkan mereka pengajian sore yang akan di gelar di rumahnya. Ada yang mengiyakan, dan ada juga yang sembunyi tidak ingin diketahui keberadaannya, namun nyatanya Daeng Ratu menemukannya juga. Entah yang sedang sembunyi dibalik tembok lingkaran sumur, atau di tempat yang cukup membuat mereka tidak terlihat. Saat akhirnya ditemukan, mereka hanya cengengesan sembari berucap, “eh, Daeng Ratu, hehe…”

“Jangan kau takut sama saya, itu E… yang perlu kau takuti!” katanya menunjuk langit mengisyaratkan ada Pencipta yang seharusnya mereka takuti.

Akhirnya, saya mesti pamit setelah sekitar satu jam mendengar kisah Daeng Ratu dan menghabiskan dua gelas minuman yang disuguhkannya. Saya pulang dengan membawa pelajaran yang sangat berharga bahwa kecintaan terhadap Islam dan hukum-hukumnya telah membuat Daeng Ratu rela meninggalkan hidup berkecukupan yang sebelumnya pernah dinikmatinya. Lalu, keberanian untuk mengatakan kebenaran pada siapa pun orang dan dimana pun tempatnya.

Secara pribadi, saya mungkin belum sepenuhnya mampu melakukannya, namun Daeng Ratu, dengan segala keterbatasan dan juga kelebihan yang dimilikinya telah mencoba menyebarkan Islam semampunya tanpa takut apapun. Hmm… sejak akan meninggalkan rumahnya dan sepanjang jalan berdebu yang saya lewati untuk pulang, diam-diam saya berharap pekan berikutnya saya menggantikan lagi teman saya untuk mengisi pengajian di rumahnya. Saya berharap bisa mendapatkan dan menggali pelajaran hidup yang lain dari Daeng Ratu. ***

 

Makassar, 17 Oktober 2011

Pembelajarannya di sini: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/402485669785239/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: