//
you're reading...
Cerpen

Karena Itulah Aku Cinta

By Yuni Astuti in Belajar Nulis ·

cinta - belajar nulisSeorang mahasiswa berjaket hitam tengah berjalan menuju masjid. Ranselnya penuh dengan buku dan jalannya menunduk. Ia tak tahu kalau seorang mahasiswi tengah memerhatikannya dengan heran. Baginya, mahasiswa itu aneh sejak pertama kali bertemu di kelas. Ia sendiri adalah mahasiswi pindahan dari Bandung.

“Hei! Affan!” teriaknya lantang, membuat beberapa kepala menoleh kepadanya. Mahasiswa yang dipanggil itu hanya menoleh sebentar mencari sumber suara, namun ketika dilihatnya Natalia yang heboh memanggilnya, ia kembali menunduk dan terus berjalan ke masjid.

“Sombong amat sih!” Natalia merengut.

“Lo suka dia?” Tanya wanita di sampingnya, Lily.

“Iya, kenapa?” jawab Natalia jujur. “Dia pendiam, gak seperti cowok-cowok kebanyakan yang centil.”

“Susah Nat…” ucap Lily.

“Susah kenapa?”

“Lihat! Affan itu soleh, sangat menjaga nilai-nilai agamanya. Menurut pandangannya, orang-orang Kristen seperti kamu adalah musuhnya. Jadi jangan harap cintamu bersambut. Aku aja yang Islam bisa dipastikan ditolak mentah-mentah! Soalnya penampilanku kan gak seperti cewek LDK.”

“What? Musuh?” ulang Natalia, tak percaya. Ia segera pergi dari tempat mereka memandang Affan. Menuju kelas.

***

Natalia sudah menempati kursi yang menurutnya strategis untuk berdekatan dengan Affan. Ketika pria itu datang, Natalia langsung memerhatikannya dengan seksama. Affan duduk paling depan, di deretan yang biasa dihuni oleh laki-laki, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan al-Qur’an kecil. Natalia kembali kecewa sebab Affan duduk tak di tempat biasanya. Seperti tak ingin dekat-dekat dengannya. Natalia segera mendekatinya, tak ingin dikungkung rasa penasaran.

“Hei! Kamu menganggap aku ini musuh kamu ya? Memangnya apa yang salah dengan agamaku, kok kamu benci banget sama aku?”

Affan terkejut, ia heran bagaimana mungkin Natalia mengatakan hal itu. Ia tak pernah menganggap Natalia musuhnya. Tetapi kalau soal agamanya, memang ada hal-hal prinsipil yang membuat agamanya tak bisa bersahabat dengan agama Natalia. Tapi bukan berarti ia membenci Natalia.

“Ngaku aja deh kamu! Aku kan suka sama kamu, tapi kamu benci sama aku gara-gara aku non muslim. Fanatik amat sih sama agama! Artis aja banyak kok yang menikah beda agama.”

Saat itu tak banyak yang berada di kelas, namun beberapa yang ada itu melihat adegan pernyataan cinta Natalia. Natalia kini diam menunggu jawaban Affan. Tapi Affan juga diam. Ia tak mengerti arah pembicaraan Natalia.

“Kamu kok diem aja sih! Ngomong apa kek, jangan kayak kambing congek!” ungkapnya, lalu dengan kesal meninggalkan Affan.

Affan semakin bingung. Ia tak mengerti apa yang wanita itu mau. Di setiap perkuliahan, Natalia termasuk mahasiswi yang aktif. Rajin bertanya maupun mengeluarkan pendapat, tak jarang membantah pendapat dosen atau teman-temannya.

***

“Fan, ada temen kamu tuh di luar nyariin kamu.” Ucap Rudi, teman kost-nya. Affan yang tengah istirahat sore sambil membaca buku itu bangkit dari duduknya.

“Siapa?” tanyanya.

“Katanya sih, Natalia.”

Affan terkejut. Bagaimana mungkin Natalia bisa sampai ke kosannya? Apa sebenarnya yang gadis itu mau? Belum puaskah ia memarahi Affan di kampus siang tadi?

“Heh, buruan temuin sana. Masa cewek secantik dia dibiarin bengong di luar? Ajak masuk gih, kenalin ke aku…hehehe…” Rudi mengagetkan Affan.

Affan segera keluar menemui Natalia yang sedang duduk santai di kursi teras. Di tangannya terdapat kotak bertuliskan selamat menikmati.

            Ketika dilihatnya Affan keluar, Natalia bangun dan menebarkan senyuman manisnya. “Hai Fan… Maaf  ya aku ganggu kamu sore ini. Aku…ingin ngomong sesuatu…”

Wajah Affan menyiratkan kebingungan. Mau apa sih kamu Nat?

            “Oiya, ini ada kue. Kebetulan tadi aku mampir ke toko kue. Nih.” Natalia menyerahkan kotak itu kepada Affan, yang kemudian duduk agak jauh dari gadis itu.

Agak lama, mereka diam. Sebelum Affan bertanya apa maksud kedatangan Natalia, gadis itu sudah mengeluarkan kata-katanya.

“Fan, memangnya kamu gak suka ya sama aku? Gara-gara kita beda agama?”

Affan kaget. Ini adalah masalah yang sangat sensitif. Natalia sudah terang-terangan mengaku kalau ia suka Affan, tapi tak mungkin bagi Affan untuk membalas perasaannya itu. Sudah sering ia mendapat kabar burung bahwa banyak akhwat LDK yang menyukainya. Itu pun sudah membuatnya pusing, sebab tak mungkin juga baginya membalas rasa suka mereka semua.

“Aku suka kamu Fan. Cuma kamu laki-laki yang paling istimewa yang pernah kukenal. Gak seperti laki-laki lain yang kukenal. Kamu pendiam, kamu juga tampaknya sangat tekun beribadah. Aku sering merhatiin kamu ada di masjid, kadang aku masuk juga ke masjid. Sengaja, buat ngeliat kamu….” Jujur Natalia mengungkapkan perasaannya. Membuat Affan semakin kaget dan tak percaya ada wanita yang bicara seperti itu di depannya.

“Tapi apa benar, kamu nganggep aku musuh? Aku minta penjelasan kamu Fan. Sekarang!”

Affan menghela nafas panjang. “Nat…” ujarnya, agak gugup. Kemudian dilanjutkannya, “Aku gak pernah menganggapmu sebagai musuh hanya karena beda agama. Kamu salah paham soal itu. Dan soal perasaanmu, aku hargai. Tapi maaf, aku gak bisa.”

Natalia gemas. Sudah panjang lebar ia bercerita, berharap akan mendapatkan jawaban memuaskan dari Affan namun yang ia dapatkan hanyalah beberapa kalimat singkat, jelas dan padat seperti naskah Proklamasi. Intinya Affan menolak. Dan itu langsung menohok hati Natalia. Baru kali ini ia ditolak oleh seorang lelaki.

“Aku mau tahu apa alasan kamu gak bisa!” tantang Natalia.

“Karena Negara kita gak membolehkan nikah beda agama.”

“Uh, kamu kejauhan. Jangan dulu bicara nikah, pacaran aja dulu… Lagian kalau emang gak boleh, kita bisa nikah di Negara lain. Kayak gitu kan uadah biasa Fan. Lagipula, cinta gak boleh dibatasi oleh sekat apapun termasuk agama!”

“Justru itulah aku gak bisa. Aku gak mau pacaran karena aku sangat menghargai wanita. Aku hanya akan mewujudkan cintaku dalam pernikahan, sebab di sana tanggung jawabku sepenuhnya atas istriku. Kalau hanya pacaran, itu gak lebih dari sebuah permainan. Padahal cinta gak bisa dipermainkan. Maaf ya Nat, sekali lagi maaf.”

Natalia tampak kecewa, namun tak lama kemudian ia berkata, “Oke, kita gak akan pacaran. Nikahi aku Fan.”

Affan seperti tersengat aliran listrik ribuan voltase. Sore ini, tak disangka-sangka ada gadis yang minta dinikahi.

“Fan jangan bengong! Jawab dong!”

Kembali Affan menghela nafas panjangnya. “Nat…maaf, aku gak mau menikah dengan wanita yang agamanya berbeda denganku. Mungkin kamu anggap aku kolot dalam hal ini, tapi aku ingin menikah dengan wanita yang satu keyakinan denganku….”

“Kalau begitu, ajari aku Islam. Aku pindah agama dan nikahi aku.” Ujar Natalia, kini membuat Affan tak lagi seperti tersengat listrik, tetapi petir!

“Nat, aku gak mau kamu pindah agama hanya karena aku. Agama adalah keyakinan tertinggi yang butuh pemikiran tak sederhana. Karena itu akan merubah hidup kamu secara total.”

“Ya aku tahu. Menjadi orang Islam berarti harus ada di masjid terus, lalu buat perempuan harus pakai kain lebar di kepala, gak boleh minum alcohol, gak boleh melihara anjing, ya kan?”

“Kurang lebih begitu…”

“Memang ribet. Tapi aku ingin bisa menikah dengan kamu. Apapun taruhannya.”

Affan geleng-geleng kepala. “Nat, bagiku….Bukan menikah yang membuatku beragama, tapi karena aku beragama maka aku menikah… Dan bukan karena cinta maka aku menikah, tapi karena menikah maka aku mencinta…”

Natalia tak habis mengerti. Affan adalah lelaki yang sulit ia pahami. Kata-katanya sulit ia terjemahkan secara tekstual. Dan memang itulah yang membuatnya menarik sejak pertama kali bertemu.

“Jadi intinya kamu nolak?” tegas Natalia.

Affan menundukkan kepala. Ia tak mampu membalas tatapan mata Natalia yang tajam.

“Aku gak ngerti. Tapi aku akan coba ngerti. Semoga Tuhan membuka hatimu untukku.” Natalia bangkit dari kursinya, bergegas ia pergi dari kost-an Affan tanpa basa-basi. Affan memandangnya tanpa kata. Ia terdiam seperti diamnya sekotak kue bawaan Natalia.

***

Beberapa hari setelah kejadian sore itu, Natalia masih bersikap seperti biasanya. Mendebat dosen dan kawan-kawannya, meski tak agresif lagi kepada Affan. Justru Affan yang nampak kikuk karena ia telah menolak cinta gadis itu.

Mereka pun disibukkan oleh banyak kegiatan kampusnya seperti menyusun skripsi dan praktik kerja lapangan. Mereka jarang bertemu, dan bila bertemu, Natalia sudah tampak tak peduli pada Affan. Terkadang Affan menginginkan Natalia menjadi muallaf dan berharap gadis itu akan istiqomah bukan karena dirinya. Tapi yang menghilangkan perasaan itu adalah bahwa ia ingin Natalia menjadi muallaf bukan karena dirinya. Harusnya keyakinan itu ada karena kesadarannya sendiri.

Wisuda Affan, Mei 2009…

Keluarga besar Affan dari Pandeglang datang menghadiri acara wisudanya. Ia meraih nilai bagus sehingga mendapat kesempatan menjadi wakil mahasiswa dalam memberikan sambutan. Saat ia berada di podium, ia melihat Natalia tersenyum padanya. Senyum itu membuat sambutannya terasa lama karena lidahnya kelu. Senyum itulah yang membuatnya tak banyak bicara lagi, segera ia turun dari podium dengan keringat membanjir.

Ia berkumpul lagi dengan keluarganya, makan-makan dan foto bersama. Tiba-tiba Natalia menghampirinya. Itu membuat Affan tak tahu harus bicara apa pada gadis itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Natalia hanya mengucapkan selamat kepada Affan, lalu bertegur sapa dengan keluarga Affan.

“Fan, apa rencanamu setelah ini?”

Affan gugup menjawab, “Mungkin…kerja…”

“Gak nikah?” Natalia tersenyum, yang terasa mengejek Affan.

“Good luck aja deh.” Setelah mengucapkan itu, Natalia pergi. Affan memerhatikan kepergian gadis itu. Mungkin ini kali terakhir ia dapat melihat gadis itu. Natalia.

***

 

Pejaten, 18 Desember 2009

Pembelajarannya di sini: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/402650413102098/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: