//
you're reading...
DiNie Syzygium Oleina, Faktual

Kapitalisasi Budaya Korea

Saat ini perkembangan Korean Wave di Indonesia semakin nyata. Begitu banyak produk-produk industri budaya Korea Selatan yang masuk ke Indonesia dan mengambil tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Baik dari dunia fashion, musik, film, kuliner, barang elektronik, dan gaya hidup lainnya. Korean wave sendiri adalah gelombang penyebaran budaya pop Korea ke seluruh dunia. Pada mulanya, gelombang ini hanya menyerbu wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara bagian  utara, seperti Vietnam. Namun, gelombang budaya pop korea menyebar ke seluruh wilayah Asia, bahkan hingga benua Eropa dan Amerika. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang tidak bisa mencegah besarnya animo gelombang korean pop.

Dari tahun 2002-2005 drama-drama Korea yang populer di Asia termasuk Indonesia antara lain Endless Love, Winter Sonata, Love Story from Harvard, Glass Shoes, Stairway to Heaven, All In, Hotelier, Memories in Bali, dan Sorry I Love You yang merupakan serial drama melankolis. Drama komedi romantis muncul berikutnya, antara lain Full House, Sassy Girl Chun Hyang, Lovers in Paris, Princess Hours, My name is Kim Sam-soon, My Girl, Hello Miss!, dan Coffee Prince. Genre drama berlatar belakang sejarah ikut mencetak rating tinggi, antara lain drama Dae Jang Geum, Queen Seon Deok, Hwang Jini, hingga Jumong. Tahun 2008-2009, drama Korea yang banyak mendapatkan perhatian adalah Boys Before Flowers (BBF).

Seiring dengan drama Korea yang semakin diterima publik Indonesia, muncul pula kegemaran akan grup boyband seperti grup musik dari SM Entertainment, seperti TVXQ dan Super Junior. Penyanyi Rain mulai dikenal lewat serial drama Full House yang ditayangkan di stasiun televisi Indonesia. Sejak itu, penggemar K-pop dan drama Korea mulai umum dijumpai.

Rupanya wabah dari korean wave ini kemudian berdampak pada pariwisata. Lokasi syuting drama korea yang terkenal menjadi obyek pariwisata yang digemari para turis untuk dikunjungi. Tentu dengan semakin banyak turis yang mendatangi korea selain berimplikasi terhadap bertambahnya devisa negara juga dapat sekaligus lebih mendekatkan secara emosional antara korea dengan turis. Akan lebih banyak orang yang merasa dekat dengan negara korea dan pelan-pelan akan memunculkan rasa sense of belonging.

Adanya wabah Korean Wave ini yang paling diuntungkan adalah para pelaku bisnis, khususnya industri hiburan. Para pengusaha industri hiburan nampaknya sangat memahami bahwa masyarakat Indonesia, terutama kaum remaja, mulai terkena demam korea. Oleh karena itu, mereka mulai menciptakan semacam  imitasi dari budaya pop korea ke dalam budaya pop Indonesia, seperti menciptakan boy/girlband ala Korea. Para pengusaha itu tentunya tahu betapa kaum remaja sangat mengidolakan K-Pop dan Korean Wave. Jadi dengan menciptakan imitasinya akan lebih mudah untuk menarik minat pasar. Lalu, keuntungan-lah yang mereka dapatkan.

Pelaku bisnis pun menggelar Konser Suju di Jakarta pada 28-29 April 2012 lalu. Konser ini pun akan membuat para pelaku bisnis mendapatkan untung besar. Dilihat harga tiketnya saja sangat mahal. Berikut adalah harga tiket resmi yang dikeluarkan oleh pihak promotor (VIVAnews) :

1. Super Box and Super Fest (free standing) – Rp 1,7 juta (US$182)

2. Junior VIP Seat (numbered seating) – Rp 1,4 juta (US$150)

3. Super VIP Seat (numbered seating) – Rp 2 juta (US$212)

4. Super Sky Seat (numbered seating) – Rp 1 juta (US$106)

5. Junior Sky Seat (free seating) – Rp 500 ribu (US$53)

Kalau kita melakukan hitungan ada 9000 penonton SUJU tiap hari selama tiga hari. Kita ambil rata-rata harga tiket 1,5 juta X 9000 penonton = Rp 13.500.000.000 omset untuk satu kali konser di Indonesia. Jika 3 hari konser di Indonesia sudah mendapatkan omset sebanyak Rp 40.500.000.00. Belum lagi di Negara lain yang sudah dapat dipastikan para pelaku bisnis banyak mendapatkan keuntungan dalam industri hiburan.

Industri hiburan ini merupakan bagian dari industri kapitalis yang didesain untuk mendulang keuntungan. Sementara remaja kita, hanya sebagai konsumen semata.  Mereka sama sekali tidak mendapatkan keuntungan secara ekonomis. Justru rakyat jadi buntung karena dipaksa konsumtif oleh industri hiburan yang relatif merogoh kocek.

Pembelajarannya disini: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/403104513056688/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: