//
you're reading...
Cerpen

RIVOLLOVUERTA

di ledakkan oleh: Hajimiskin

revolusi - belajar nulisWien. Entah sudah berapa lama kau turut memenuhi kolong-kolong memoriku yang terpasung pada batas kesadaran. Seketika saja aku teringat lagi saat dirimu masih bocah dulu. Saat kita sama menertawakan bias-bias lendir hidung yang terasa jorok dalam pandangan orang hingga sekarang. Dan kaupun mengoceh dengan wajah setengah memerah, mengepal tinju, memasang kuda-kuda pada anak tetangga kita yang punya mobil itu.

Dalam jumawa yang selalu saja kau khatamkan dengan sendawa. Betapa girangnya kita mencuri dua-tiga butir jambu air. Kebun engkongmu yang justru dari sanalah bapakmu berani mengikat janji hingga kaupun lahir. Mengendap-ngendap, mungkin biar nasib kita tidak berakhir mengenaskan di bawah palu pengadilan seperti nenek Abolu di kaki bukit. Ah, aku terlalu mengada-ada. Bukankah kau ini cucunya?

Wien. Kita sepasang pendekar. Malang melintang melanglang buana mencari jejak spiderman. Meski pada akhirnya kita hanya menemukan jasad wiro sableng dalam komik-komik lusuh di bawah lemari perpustakaan mewah. Dan tahu kah kau kala itu? Ipin-upin belum menerobos retina kita. Ya, masih ku ingat betul wajah lesu lemasmu memerankan tokoh cuplis di panggung yang nyaris roboh. Jujur harus ku akui, botakmu itu lebih pas dipadankan dengan sosok animasi dari mahakarya yang bernaung di bawah bendera les copaque itu. Wien… wien… kau lucu!

Wien. Adakalanya hidup terasa membosankan. Kau bisiki aku kalimat itu berkali-kali bagai dogma agama yang terbit dari tutur Santo. Hingga tak ku duga kerut-kerut dahiku menyembul. Tak menyangka aku akan berpikir bahwa kata-kata itulah yang membuatmu terlihat bagai monster di tengah kehidupan. Kau hunus pedang kali pertama di hadapan orang-orang bertampang garang. Di balik jelaga ku intip kau sambil mengompori dalam hati. Saat itu bapakmu masih sekarat dibelakangku menahan perihnya reaksi timah panas yang baru saja didapatinya. Saat ku tahu anak muda sepertimu tak kan menang hanya dengan pedang, eh… kau malah menantang. Tidakkah kau ingat ceramah imam surau yang baru saja pulang umrah? ceramah yang selalu menjadikan riak-riak air bersemangat menjilat-jilati epiglotismu persis seperti orang mau muntah? Atau, jangan-jangan masa itu kau terlambat memahami kaidah kausalitas? Hah… menyesal aku terlambat menanyakannya. Lubang kecilpun menganga di pelipis kiri. Kau menggelepar serupa ayam sawungan yang sering kita adu di pematang sawah. Serupa sajak Khairil Anwar perihal seorang kombatan yang bernaung tiga peluru di dadanya. Kau merasa tak kan mati muda. Kau ingin hidup seribu tahun lagi. Ingatkan?

Wien. Meski matamu nampak tegar, tapi ku tahu benar hatimu telah nanar kala itu. Terimakasihku padamu anak muda. Keberanian yang kau seret dari jiwa aktivis mahasiswa. Yang kau tanam. Kau pupuk. Kau siramkan padaku tiap kali pulang ke desa Bulobanging, kini tumbuh menjulang menghirup udara revolusi Libya. Dimana-mana, penindasan tetaplah sama. Aku keluar dari rutinitas membosankan. Ini bukan pekerjaan. Ini tak lebih dari penghisapan. Perlawanan menyesaki dadaku tiap kali melintasi realitas manusia di balik gedung-gedung tinggi, tak jauh dari pabrik. Maka seperti yang kau bilang, kemanusiaan adalah alasan mengapa kita berdiri menantang di garis depan. Aku dan beberapa TKI akhirnya menggabungkan diri bersama kolektif buruh Libya. Masanya telah tiba mengakhiri diktatoriat rezim, Wien. Sungguh tak ada tempat bagi mereka yang memupuk sifat-sifat ketamakan.

Wien. Waktu berjalan mundur. Di luar sana sorak sorai makin menggelegar. Teriak menggaung lalu pecah menghantam dinding gunung. Tuhan telah mati. Maka biarkan aku mengembalikan helai napasmu Wien. Aku ingin bersamamu, dalam gelap di pelupuk matamu…

7 Desember,

Aku. Wandira-mu… 

[***]

Apakah rinai hujan kembali menangisi bumi? Apakah anak-anakku masih berlarian mengoyak padi wak emmang seperti dulu? Apakah kompor emak masih berguna ataukah ia kembali menyicil ranting di kaki bukit? Haha… maklumlah Wien. Di tengah penantian panjang ini, ada banyak yang ingin ku ceritakan. Ada banyak pula yang ingin ku tanyakan. Termasuk tentang dirimu sayangku. Kau yang tertatih membesarkan jundi-jundi kita.

“Apakah kau masih selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap, sambil membenarkan letak leher kemejaku?” ingatkah kau pada Kutipan Shoe yang kupakai menggodamu waktu mahasiswa dulu? Ah, waktu telah membunuh masa lalu itu. Kini, entah bagaimana kau di sana. Tembok-tembok ini, ah…Wien… aku rindu!

Oh iya. Seorang kawan lama yang datang berkunjung bercerita padaku. Katanya negeri sedang bergolak ya? Harga minyak melawak lagi ya? Mahasiswa demo lagi ya? Heroik mana dengan kita dulu? Menguningkan jalan-jalan kota dengan almamater kebesaran kampus. Kau berdiri tepat di sisiku, menyatukan teriakan pada lautan massa. hehehe…

Aksi adalah reaksi dan hukum alam selalu begitu. Tapi sadarkah dirimu wien. Ada yang salah dengan ide yang dulu mewarnai kadar intelektual kita. Rasa-rasanya, kedaulatan rakyat selalu di khianati sekelompok peci berdasi gedung-gedung tikus. Lihatlah huru-hara di negeri kita. Negeri berdaulat tidak akan menyerahkan ketahanan energinya pada asing. Nominal harga tidak boleh mengekor standar dunia. Tapi nyatanya? Kau tentu lebih tahu wien. Saat-saat begini, partai-partai paling jago memanfaatkan situasi. Ada yang memanfaatkannya demi pencitraan. Ada pula yang memanfaatkannya demi sokongan dana-dana asing persiapan pemilu. Terlalu fantasi membayangkan isu minyak ini terlepas dari kedua alasan itu, iya kan? Tapi sudahlah, itu juga hukum alam Wien. Hukuman bagi mereka yang berani meletakkan kedaulatan bukan pada tuhan. Tidakkah jelas petuah-Nya dalam al-maidah ayat 50?  hah, kedaulatan di tangan rakyat rasa-rasanya berbuah sengsara.

Eh, Wien. Masih ingatkah kau dengan surat ‘segel’ ku sebelumnya? Tentang kawan TKI yang ku temui di KBRI beberapa tahun lalu? Sejak penantian ini menyibukkan angan-anganku, dialah kini rival beratku. Kawan seteru, serupa buku-buku yang saling beradu. Kami ibarat dua kutub yang aneh, nikmat berdebat padahal nasib kami akan berujung sama. Sama-sama tak tahu akan bernasib apa.

Dia pernah bilang, gagasan revolusi akan terealisasi di tangan rakyat. Jika mereka berkehendak, maka perubahan tak bisa mengelak. Gagasan revolusi akan selalu menuai chaos. Itulah harga mutlak tumbal perubahan. Jawaban dialektika materialisme menuju masyarakat sosialis. hah, rasa-rasanya ada aspek yang tidak begitu di perhatikan. Pencerdasan politik kelihatannya tidak penting lagi dalam perjuangan. Seruan massa ibarat aktifitas pamer dukungan. Akibatnya, massa yang tergerak pasti tak lebih karena urusan perut. Buktinya, saat tuntutan selesai mereka pun kembali pada rutinitas. Menormalkan laju roda kapitalisme. Ya, itulah faktanya. Massa dengan modal semangat saja rentan menuai pengkhianatan. Rakyat macam ini bakal jadi bumerang di kemudian hari. Percayalah!

pencerdasan politik pada rakyat adalah syarat mutlak sebelum menggulirkan revolusi. Komposisi massa yang bergerak harus di isi oleh person-person yang paham dan mengerti visi misi gerakan mereka. Dari sini loyalitas akan terbangun wien. Idealisme rakyat akan tercipta oleh pemahaman yang lahir dari pemikiran yang sahih. Pemikiran inilah yang akan menyetir arus revolusi. Ia  tidak berangkat dari pertentangan kelas, apalagi iming-iming kemenangan yang ilusif!

Wien. Aku yakin, wanita pelahap buku sepertimu tentu pernah membaca pertarungan ideologi yang rasulullah alami. Antara kekufuran dan risalah yang di genggamnya. Itu lho, waktu suku quraisy menawari harta, tahta dan wanita? Coba pikir, apa yang membuat rasul menolak tawaran-tawaran itu? Secara politis, ini kan sangat menguntungkan. Quraisy hendak memberikan seluruh harta mereka. Padahal jika beliau terima maka beliaulah orang yang paling kaya di antara mereka. Sangat mudah kan menyeru masyarakat memeluk islam dengan modal harta yang Ia miliki? Quraisy hendak memberikan wanita-wanita mereka. Bukankah mudah saja baginya menikahi turunan para pembesar Quraisy yang pada akhirnya menjadikan mekkah tunduk pada kekuasaan beliau? Atau, apa alasannya hingga beliau menolak tahta? Justru ini yang paling efektif untuk menaklukkan mereka. Tapi tidak wien! Sekali-kali, rasul tidak bergeser di hantam kuasa zaman jahiliyah. Jawaban beliau sangat indah, tepat sempurna menggambarkan jiwa revolusioner,

“Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa.”

Wien, efek benih idealisme inilah yang beliau hujamkan ke dada sahabat-sahabatnya kemudian. Menjadi saksi perlawanan kaum Muhajirin hingga berujung pada embargo ekonomi suatu ketika. Maka menangislah Zaid bin Haritsah mendapati lelaki mulia itu menahan laparnya hari demi hari. Mendahulukan pengikutnya atas makanan yang ada.

Lihatlah wien. Apapun taruhannya, Rasul takkan mau memetik kemenangan lewat jalan yang tidak sesuai tuntunan Allah. Beliau takkan mau memimpin masyarakat yang belum tercerahkan oleh visi misinya. Beliau menginginkan adanya pencerdasan politik rakyat dengan pemikiran islam. Pemikiran yang mampu membawa mereka bertahan, melewati zaman melelahkan menuju perubahan sebagaimana yang terjadi pada suku Aus dan Khazraj. Inilah jalan revolusi itu wien. Kegemilangan yang menandai pencerahan dunia di tahun-tahun berikutnya.

Kau mungkin bingung mengapa aku begini wien? Lelaki melayu. pengagum janggut Marx, ke Libya demi hasrat pemikiran sosialis religius, kini telah berubah. Ya, aku menemukan nikmatnya diskusi pada seorang buruh yang lari dari aleppo. Mustajeb ben jamaal. Pribadi sederhana itu menaruh badai keraguan dahsyat dalam hatiku. Tentang revolusi dan beberapa hal lainnya.

Telah empat tahun, muslim revolusioner itu lenyap dari peredaran. Kawan-kawan front bilang, ia di culik usai shalat jumat. Tapi itulah konsekuensi perjuangan sang aktivis. Menang tak di puji, hilang tak di cari,

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Mungkin begitu Wien. Sungguh tak kan ku lupa dirinya. Lelaki yang menaruh pemicu seribu macam tanya.

Hei wien. apa pernah kau mengenal wandira? Usai diskusi sengit, rivalku itu bilang kalau ia mengenalmu. Aku terbahak, mana mungkin istriku yang cantik ini bernama Wienarto? Hhaha…

Okay. Akhirnya masa ini tiba. Aku berbisik pada sunyi. Tentang hari dimana langit telah gulita kembali. Aku mendengar. Jeritan bocah di himpit zaman penuh kezaliman. Tinggal lah sebentar lagi Wien, temani diriku dengan tingkah polamu di dalam benakku.

Mursalim, 2 Desember. 

[***]

Derik terali melepas simfoni bersama pagi. Gemuruh suara persis kawanan laron mengerubuti neon. Sepasang mata mengoyak aforisma. Sungguh idealime sedang di uji.

Wandira berjalan, Mursalim tepat di depannya. Mereka menyelip secarik kertas pada seorang tua. Minta di pos kan dengan hati-hati. Seperti biasa, meski kadang kembali dengan selamat, mereka mesti tetap memperbarui kabar terakhirnya di balik terali.

“C Block. 206. Emeraldi Wandira..! L block. 95. Ahmed mustajeb ben Jamaal..! L block. 24. Min Co In..! A block. 7. Mahbub Mursalim..! D block… 74….E block… 57… 33… H block… ”

Ratusan massa menghadapkan wajah ke bumi. Sahut-sahutan berangsur meramu kegetiran. Baris kematian banjar dua. Salim terbelalak, dari mana datangnya lelaki revolusioner itu? nyaris 3 tahun ia terperangkap di balik jeruji, kenapa tak sekalipun mereka bertemu?

berulang Kali Ahmed mustajeeb menggeleng Di bawah lambaian tali. Di hadapannya, lelaki tegap masih nikmat merayu.

“anak muda. Inilah menit-menit yang menentukan. Sebelum hilang kesabaran, pertimbangkanlah kembali tawaran sang presiden. Mungkin takkan ada lagi catatan sejarah yang menuliskan kebaikannya, seperti yang ia berikan padamu hari ini. Engkau cukup menulis dua tiga kata penyesalan. Maka kau bebas!”

“Gaung kebenaran selalu abadi merekam bait-bait pengkhianatan. Dulu, ia adalah sesosok ayah. Aku tumbuh besar tak jauh dari dekapannya. Namun sejarah akhirnya mengukir perbedaan jalan kami. Hingga kawanku sekalipun, putranya sendiri, rela memenggal napas di barisan juang empat tahun lalu. Lantas, alasan apa yang membuatku harus mengkhianati-Nya? Dengarkan baik-baik. Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf pun ketundukkan pada rezim thogut!”

perwira itu tersentak. Tatapannya hilang di lumat mata elang seorang pejuang. Dari dalam barisan tempat puluhan manusia berdiri menjemput kematian, segelintir pemuda mencium kejanggalan. Lidah mereka mulai mengobarkan gemuruh titik nadir perlawanan.

 

Ya syabab! qod anaba,… Wahai pemuda! Engkau adalah wakil Allah…

Wa ilallah istajaba,… yang bertanggungjawab kepada Allah…

Inna man yarju tsawaba,… yang bersungguh-sungguh mengharapkan pahala…

 Laa yubali bi shi’aba,… tidak menghiraukan kesulitan…

 

Helaan panjang menggiring detik-detik kepulangan para martir. Borgol di lepas. Tali mengalung ke leher. Mereka,… tujuh orang pemuda.

 

Fii sabilillahi namdhi,… di jalan Allah yang kita lewati…  

Nabtaghi raf’il liwa-i,… harapan kita mengibarkan Al-Liwa…

Falya’ud liddini majdu,… sehingga Allah menjanjikan kemenangan untuk dien ini…

Walya’ud liddini ‘izzu,… sehingga Allah menjanjikan kemuliaan untuk dien ini… 

 

Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd!

Tuas bergerak, tugasnya telah sempurna.

Pembelajaran tulisan “Rivollovuerta” ini bisa dibaca di sini: Komunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: