//
you're reading...
Inspirasi

BUKAN RETAK KACA

anak bertengkar - belajar nulisHari itu ada kejadian yang cukup menarik. Waktu anak-anak pulang tiba-tiba suara gaduh memaksaku keluar kantor sekedar mencari tau sumber suara itu, yang ternyata anak kelas 3A ananda Sava yang menangis dan adu mulut dengan Noval, teman sekelasnya. Mencoba melerai, aku tanya mereka satu per satu apa sebenarnya yang tengah terjadi. Noval dengan antusias menjelaskan, “Ustadzah, mas ini loh manja. Minta dibawakan tasnya. Udah gedhe ukurannya, berat lagi isinya. Aku kan capek us…”. Sava pun menimpali dengan suara yang tak terlalu jelas karena masih sesenggukan, “Namanya film itu ya dongeng, pasti g beneran… tapi kenapa dari dulu kok ceritanya polisi terus… (sambil terus menangis)”.

Belum jauh menanyai mereka lagi, tawaku gagal tertahan melihat Sava yang sambil sesenggukan masih bisa menjelaskan kronologi kejadian perkara meski tak jelas apa yang dia ceritakan. Namun logatnya yang seperti dalang membuatku geli. Anak-anak yang lain pun tak mau ketinggalan  mendengar celoteh dan gaya Sava yang lucu. Mereka pun mengerubunginya. Kontan jalan Salamah* lantai dua pun macet total. Pasalnya, Sava berada di tengah jalan tempat anak-anak berlalu lalang pulang.

Aku pun tau, rupanya Sava takut sama polisi meski dalam bentuk kata yang menjelma dalam suara. Ajaib, kata itu mampu memaksa air mata Sava keluar begitu derasnya. Karena kegaduhan bermula dari Sava dan Noval, hipotesaku mengarah pada Noval sebagai tersangka. Ternyata aku keliru, Noval mengelak dan menjelaskan perkara yang sebenarnya bermula pada Bram. Noval pun mencari Bram. Tak lama kemudian tak hanya Bram yang datang, sang kelapa suku 3A pun turut serta, Abim. Dengan gaya bijaksana dia mencoba menjelaskan panjang lebar akhirnya mengerucut pada Bram sebagai pemain tunggal aksi kejahilan. Dalam waktu yang singkat Bram mengakui semua khilafnya. Dan subhanallah dia langsung berinisiatif untuk meminta maaf kepada Sava dengan mengulurkan tangan meski Sava belum bersedia menyambutnya. Setelah melalui bujukan yang luar biasa, akhirnya dengan tampang ennocent Sava pun berkata, “Aku mau memaafkan mas Bram asalkan dia mau menggendongku sampai rumah, hehehe… (sambil nyengir)”. Sungguh lucu anak itu, meski air matanya belum kering, ada tawa di akhir celotehnya. Setelah melalui lobi yang cukup alot, Sava mengiyakan usulanku. Sebagai ganti keisengannya, Bram hanya diganjar segelas air mineral pengganti air mata Sava yang habis terkuras. Mereka pun riang tertawa kembali seperti sedia kala, seolah tak terjadi apa-apa.

Subhanallah… begitulah anak-anak. Konfliknya pun bisa jadi hiburan. Bertengkar cuma sebentar. Hasilnya pun membuat orang yang melihatnya riang bahkan memperkental ikatan perkawanan mereka. Mungkin tak seperti kita, orang dewasa. Sedikit hati tergores, berjam-jam, berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan tak kunjung kering luka. Efeknya pun mungkin membuat penonton kecewa atau bahkan mengakibatkan retaknya persahabat yang telah terbina, seperti retaknya kaca yang tak bisa dihapus jejaknya. Semoga kita tak sama.

*Salamah = SD Alam Arrohmah

Pembelajaran tulisan “Bukan Retak Kaca” bisa dibaca di sini: KOmunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: