//
you're reading...
Cerbung

Menepuk Rasa #01

Bagian 1

Di sudut ruangan, duduk seorang perempuan muda, yang terkesan modis dengan balutan kerudung phasmina pelanginya, menarik nafas dalam. Dia tak menyangka akan mengambil kelas conversation ini. Namun, dia telah bertekad akan bersungguh-sungguh melakukanya untuk mendapatkan hasil terbaik.

“Hi, guys! My name’s  Alex O’Neil. You can call me Alex…”

“Hiiiii Alex…”

Terdengar suara koor teman-teman sekelasnya yang sedari tadi berkelakuan terlalu berlebihan, terlihat memaksakan diri untuk menikmati kelas baru ini dengan gaya mereka yang atraktif dan imut. Mereka ABG-ABG tanggung yang baru duduk di bangku kuliah, dengan stelan pakaian yang modis lengkap dengan asesoris-asesorisnya. Perempuan di sudut ruangan tersebut merasa bersyukur, hari ini dia memakai pakaian muslimah santai model gamis susun yang membuat dirinya tidak merasa canggung berbaur dengan geng ABG itu. Dia berpikir untuk menambah koleksi pakaian modisnya agar nyaman berada di kelas ini.

Pertemuan kali ini sama seperti pertemuan-pertemuan  pertama lainnya yaitu sesi perkenalan. Sudah empat orang teman kelasnya memperkenalkan diri, kali ini adalah gilirannya.

“Ok guys, my name is Alya Adriana. Just call me Alya. I work at a magazine as media relation officer. I’m twenty six…

Dang! Dia keceplosan menyebutkan umurnya. Padahal itu yang berusaha dia hindari sedari tadi. Dia tidak mau semua orang mengetahui bahwa dia adalah peserta tertua di kelas itu. Dia merasa malu telah mengungkap “rahasia besar” ini di hadapan kumpulan remaja tersebut.

“Ooohh… Maybe I’m the oldest one, but, it’s ok. We’ll have a lot of fun here I guess.” Kata gadis bernama Alya itu tersenyum lebar sedikit meringis, berusaha mengendalikan keadaan.

Tiba-tiba Alex menatapnya tersenyum…

“Don’t worry Alya, I’m twenty nine.” Alex membesarkan hati Alya dengan senyum terbaiknya.”Ok guys… What we need to do here is just talk, right? Come on, let’s have nice talk.” Kata Alex  mencairkan suasana sambil tersenyum santai.

“So, Alya. Are you nervous? Alex tiba-tiba meliriknya.

“No…noo.. I’m just fine, Alex”

“Oh, that’s good!”

***

Di atas angkutan umum yang ditumpanginya, pikiran Alya kembali menerawang ke kelas conversation yang menyenangkan tadi. Pada awalnya dia sedikit ragu karena harus bergaul dengan anak-anak ABG yang tak seumuran dengannya. Apa pun gaya mereka, dia tidak memedulikan itu. Dia hanya ingin belajar. Namun sekarang yang menjadi masalah adalah Alex yang selalu mencuri-curi pandang padanya. Alya melihat Alex sebagai orang baik dan perhatian selama di kelas. Dia selalu melirik Alya, seperti mengisyaratkan rasa hormat hingga Alya merasa risih. Alya berpikir ini pasti ada hubungannya dengan pertanyaan Alex tadi tentang latar pendidikannya di ilmu politik, pengalaman kerjanya di media  dan hobi menulisnya.

Malam ini sangat melelahkan dan mulai terasa menggigit ketika Alya melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 21.40. Jam segini dia baru sampai di kosannya setelah mengikuti les bahasa Inggris. Biasanya sepulang kerja dia sudah ada di kamarnya sebelum panggilan adzan Magrib. Malam ini dia juga terlambat menyantap makan malam. Saking laparnya dia menggigit dan menyapu satu baris tusukan sate masuk ke mulutnya, yang tadi dibelinya di belokan gang menuju arah kosannya. Selesai makan dan beristirahat sebentar kemudian dia mandi dan shalat Isya. Dia ingin beristirahat tapi matanya belum mengantuk, maka dibukanya netbook dan mulai masuk ke dalam  dunia tanpa batas yang dimampatkan ke dalam layar tipis berukuran panjang 10 inci. Sekarang sudah pukul 23.30, matanya masih tertuju pada layar netbook, tampak sangat serius.

***

“Alyaaa… Alyaaa!” Irma meneriakkan nama Alya berkali-kali sambil berlari kecil menyusulnya. “Hey! Kau ini kenapa?”Sambung Irma dengan suara meninggi.

“Maaf, aku sibuk sekali hari ini sampai tidak mendengarmu. Aku lupa dimana menyimpan data  beberapa majalah perempuan yang seharusnya sudah kutelpon  untuk  media gathering nanti.” Kata Alya menjelaskan setelah menghentikan langkahnya yang tampak hectic. “Ada apa?” sambung Alya.

“Kemaren sore Irfan kemari. Dia menanyakan dirimu, tapi kamu sudah pulang. Kenapa buru-buru pulang? Tidak biasanya…” Irma bertanya penuh selidik.

“Oh, aku ada kelas Bahasa Inggris kemaren.” Potong Alya singkat, kemudian bergumam pelan “Mmm… Si jurnalis itu…”

“Cieee… aku sebut namanya saja kamu langsung terpana begitu. Hahaha…” Tawa Irma mengeras hampir mengikik. Irma mendelik melihat kelakuan Irma.

“Memangnya ada apa dengannya?” Tanya Alya pelan dengan raut muka tidak peduli. “Hey, sebentar… Kamu mencegatku hanya untuk mengatakan ini? Please… Irma!” Alya menatap Irma tak percaya teringat pada pekerjaannya yang menumpuk hari ini.

“Ih, kamu ini. Memangnya nggak lihat ya usaha dia mau pedekate? Kamu benar-benar nggak peka sama sekali! Kusarankan ya, kamu harus menonton drama Korea sesekali agar perasaanmu bisa seimbang dengan pikiranmu.” Semprot Irma kesal.

Tiba-tiba Mba Dwi, staf Public Relations yang mejanya tidak berjauhan dengan meja Alya, berdehem. Memandang Irma dengan senyum menawannya yang terbaik, kemudian angkat bicara, “Kalian ini mengganggu konsentrasiku saja. Gara-gara drama Koreanya Irma, nih.” Mba Dwi menghela nafas gundah penuh penyesalan.

“Kenapa Mba? Suka juga ya?” Irma mengerling centil. “Mau kupinjamkan dvd-nya? Ada yang baru lhooo… Drakor-nya Dennis Oh. Tau kan Dennis Oh? Aktor Korea yang ganteng ituuu…” Kata Irma menjerit manja.

Mba Dwi ngeri melihat ekspresi Irma. “Bukan…sama sekali bukan karena aku suka nonton itu. Hanya saja, aku mau protes ketika kamu bilang bahwa drama Korea itu cara untuk membuat perasaan lebih peka dan agar perasaan dan pemikiran seseorang jadi seimbang. Seolah mengatakan drama Korea itu model cinta sejati yang bisa dijadikan rujukan.”

Seketika, senyum mengembang Irma berubah mengerucut dan masam. “Ehmm.. Emangnya ada yang salah dengan drama Korea, Mba?”

“Iya. Efeknya.” Jawab Mba Dwi.

“Memangnya kenapa Mba? Irma tampak tidak mengerti dengan jawaban singkat tersebut.

“Aku pastikan setelah menonton drama kamu jadi ketagihan, trus perasaannya campur aduk ngeliatin orang pacaran. Iya nggak? Trus kalau nggak salah tebak, nanti kamu akan nangis di pojokan kamar, meratapi nasib mengapa kisah cintamu tidak semanis itu. Kamu menyesali mengapa kamu tidak bertemu dengan laki-laki tampan yang membawa sejuta cinta segampang di drama itu. Kamu justru menyiksa dirimu sendiri dalam imajinasi yang melampaui batas membayangkan pria-pria ganteng itu dalam mimpimu, dan bukan tidak mungkin kamu akan frustrasi menyadari itu hanya khayalan. Tentunya tidak baik untuk perasaan dan pikiranmu kan? Benar tidak? Nah, itu yang namanya menyakiti diri sendiri, melemparkan diri jatuh ke dalam angan-angan yang tinggi.” Kata Mba Dwi seolah sedang menarik pelatuk pistol dan menghempaskan peluru bertubi-tubi ke dahi Irma tepat sasaran.

Irma melongo dengan mulut terbuka. Dia membayangkan balon khayalan, berisi aktor ganteng Korea yang sedang tersenyum padanya, membesar di atas kepalanya tiba-tiba meletus karena ditusuk Mba Dwi dengan jarum yang tajam. Dia terhenyak dengan penjelasan Mba Dwi yang sangat tepat sekali menerka apa yang memang terjadi pada dirinya. Wajahnya bergidik ngeri memandang Mba Dwi, tidak habis pikir mengapa perempuan di depannya ini seolah mampu menewarang apa yang telah dialaminya.

“Irma sayang, jangan shock begitu dong. Karena aku sayang kamu, aku cuma mau bilang keseringan nonton itu akan memperburuk keadaanmu. Ingatkan kalau Allah tidak suka dengan orang-orang yang menyakiti dirinya sendiri apalagi hingga terjerumus ke hal-hal yang maksiat.” Kembali Mba Dwi mengembangkan senyum menawannya. Irma seolah tak mampu menangkis teduhnya senyuman itu, menenangkan. Walaupun pikirannya berkecamuk berusaha menolak kebenaran kata-kata Mba Dwi.

Tersenyum meringis Irma langsung kabur ke meja kerjanya. Sedangkan Alya tersenyum penuh kemenangan. Pahlawannya datang menyelamatkan di waktu yang tepat. Walaupun nyolot, tindakan Mba Dwi yang telah merusak suasana perdebatan antara dirinya dengan Irma dianggapnya suatu berkah di pagi hari.

Mba Dwi adalah teman baik Alya di kantor. Beliaulah yang sering menasihati Alya banyak hal tentang Islam. Walaupun hanya berselang dua tahun umur mereka, tetapi Mba Dwi sangat dewasa sekali menurut Alya. Pemikirannya sangat matang dan dia tahu harus berbuat apa dalam setiap keadaan. Beliau punya sikap yang jelas dengan kata lain punya prinsip. Namun demikian, beliau bukanlah sosok kaku dan jaim, tetapi gampang bergaul dan berbaur dengan gaya candaannya yang terkadang blak-blakan namun tidak menyakitkan begitupun dengan nasihat-nasihatnya yang tidak menggurui. Memakai baju muslimah bermodel jubah, dia selalu terlihat anggun di mata Alya. Beliau pernah berkata jika seperti itulah pakaian muslimah yang syar’i. Sekarang Alya juga sudah nyaman memakainya karena Mba Dwi telah memberinya pemahaman Islam tentang model pakaian yang benar.

Alya kembali ke mejanya, menggapai keyboard komputer, mengetik dengan cepat. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi riuh rendah mesin printer yang sedang mengeluarkan hasil cetakannya. Alya menyambar lembaran kertas yang baru keluar tersebut kemudian langsung menyergap mesin faks di samping komputer.

Irma hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman sekantornya itu dari kejauhan. Sepertinya perempuan yang baru saja dicegatnya itu tidak romantis sama sekali dan tidak membutuhkan cinta. Dia merasa telah gagal menjalankan misi sebagai mak comblang pagi ini. Irma mengusap dahinya perlahan dengan wajah frustrasi sambil mengutuk, “Ah, ini gara-gara drama Korea sialan itu!”

Alya yang bersikap cuek dan tidak peduli sebenarnya memikirkan apa yang disampaikan Irma tadi. Sebelumnya dia memang sudah kenal baik dengan Irfan. Irfan adalah teman satu profesi Kemal, wartawan di kantornya. Irfan sering bertandang ke kantornya karena ada  keperluan kerja atau sekedar berdiskusi dengan Kemal dan teman-teman jurnalis di kantor Alya. Mereka beda kantor, hanya saja masih satu grup media. Kemal yang memperkenalkan Alya pada Irfan karena mereka punya hobi yang sama yaitu menulis opini tentang politik di media mereka atau di media eksternal sekali-sekali. Walaupun Alya bukan di bagian penulisan dan pengumpulan berita, tapi dia sangat tertarik dengan dunia kewartawanan tersebut sehingga atasannya mengizinkan untuk menyumbangkan pemikiran lewat tulisan opini di kolom majalah mereka. Selama ini Alya hanya menganggap Irfan sebagai teman berdiskusi yang menyenangkan. Irfan adalah seorang jurnalis yang kritis dan sangat detail sekali dalam penjelasan argumentasinya. Tak bisa dipungkiri, Alya memang kagum padanya, tapi kagum karena kecerdasannya. Namun, tiba-tiba saja pagi ini Irma mengutak-atik bangunan persepsinya selama ini. Alya berusaha mengabaikan pikiran-pikirannya itu, teringat akan nasihat Mba Dwi tentang bagaimana menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam yang tidak lebih dari sekedar  hubungan sosial biasa antar manusia, bagaimana menjaga hati agar tidak dirasuki oleh rayuan-rayuan setan dengan perasaan yang tidak jelas. Dia mendadak ketakutan membayangkan Irfan akan menembaknya untuk dijadikan pacar karena… dia mau ditembak untuk dijadikan istri… Alya terkekeh sendiri menertawai khayalan isengnya.

Alya mengalihkan pandangan ke layar komputer di depannya. Dengan gerakan cepat diketiknya nama situs penyedia layanan email gratis, menemukan alamat emailnya yang telah tercantum kemudian secepat kilat mengetik password  yang sudah sangat dihafal oleh jari-jarinya. Ini adalah aktivitas rutinnya di pagi hari sesampai di kantor.

Ada pesan dari Irfan… Alya termangu, karena pagi ini pikirannya memang telah dipenuhi oleh Irfan gara-gara ucapan Irma tadi. Irfan mengirimkan sebuah ulasan berita yang sedang heboh diperbincangkan media sosial hari ini, yaitu tentang kegaduhan di kubu partai pemenang pemilu karena manuver politiknya yang dianggap mencederai kepercayaan rakyat. Belum lagi santernya isu korupsi mendera partai ini terkait dana kampanye mereka tahun lalu. Alya tersenyum antusias membaca argumentasi Irfan disertai fakta yang dikumpulkannya di lapangan tentang kasus tersebut. Sungguh, itu berita yang sangat menghebohkan dunia perpolitikan Indonesia saat ini. Di akhir tulisannya Irfan menantang Alya untuk membuat tulisan opini tentang kasus tersebut. Irfan beralasan bahwa sarjana ilmu politik seperti Alya tentu lebih memiliki pemahaman tentang konsepsi politik yang lebih luas dalam membedah berita tersebut. Sejenak dia tertegun, mengapa sarjana ilmu politik seperti dirinya justru terjun ke dunia public relations. Semua memang tidak selalu seperti yang direncanakan manusia, terkadang pilihan-pilihan hidup dan takdir Tuhan mengubah segalanya.

Alya mengerutkan dahinya, menarik garis lengkung di sudut bibir kirinya secara refleks, sambil menumpukan kepala pada tangan kanannya yang menyiku ke meja. Sepanjang yang dia ketahui, diskusi  politik selama ini tidak hanya melibatkan Kemal, Irfan dan Alya saja tapi juga beberapa jurnalis laki-laki dan perempuan di kantor ini. Naima, Rini dan Evie adalah jurnalis perempuan yang tak pernah ketinggalan ketika diskusi politik itu berlangsung. Tapi kenapa Irfan seperti membedakan dirinya dengan jurnalis perempuan yang lainnya? Lagi-lagi pikiran egosentris itu merasuki Alya. Nyatanya Alya memang perempuan yang sering berimajinasi menjadi center of universe alias pusat perhatian, seperti kebanyakan perempuan lainnya.

“Ah, dia hanya berusaha memanas-manasiku saja untuk menulis. Dia memang pintar menjadi provokator!” Alya bergumam lirih berusaha berpikir rasional dan menebas semua kegeerannya.

Alya meng-klik menu reply dan menulis:

Hmm… Fakta yang menarik dan analisis yang masuk akal. Apalagi yang harus kutulis jika kamu sudah menggalinya dengan sangat jelas? Ok, if you push me to do this. I’ll take the challange, anyway.

Alya mengklik menu send dengan sedikit beban memenuhi kepalanya. Pastinya malam ini dia akan sangat sibuk memeras otak untuk tulisan itu. Tapi begitulah caranya untuk menajamkan kesadaran dan pemikiran politiknya.

Seketika, muncul tanda email yang baru masuk di pojok kanan bawah layar monitornya. Irfan, sangat cepat membalas emailnya, ini berarti dia sedang online saat ini. Dalam balasan emailnya, Irfan hanya menulis:

Ok, I’ll wait for it🙂

Alya menghela nafas dalam kemudian kembali menceburkan diri ke agenda pekerjaannya hari ini.

***

Tidak semua kru media perempuan yang  diundang Alya dapat hadir ke acara media gathering yang diselenggarakan kantornya. Acara ini lebih dikhususkan untuk acara kumpul-kumpul redaktur media perempuan. Majalah tempat Alya bekerja akan membuat rubrik baru khusus perempuan. Untuk awal peluncuran rubrik ini, redaktur di majalahnya berniat mengundang mereka agar mau menyumbangkan beberapa tulisan.

Dalam acara kumpul-kumpul insan media ini, Alya berkenalan dengan seorang jurnalis senior yang menjabat sebagai redaktur pelaksana pada sebuah media nasional. Alya terlibat pembicaraan serius dengan beliau tentang isu politik yang menjadi buah bibir saat ini.

“Kita bisa lihat Alya, kebijakan-kebijakan tidak populer mereka justru banyak merugikan masyarakat. Mereka menaikkan harga bahan bakar minyak yang pada faktanya berdampak pada kenaikan harga bahan pokok. Nah, untuk meredam kemarahan rakyat, mereka menawarkan program bantuan langsung yang akan diberikan dalam jangka waktu tiga bulan ke depan. Tentunya ini tidak akan mengubah perekonomian masyarakat secara signifikan. Dengan nominal bantuan yang sangat tidak mencukupi tersebut, apa masyarakat akan terselamatkan dari kemiskinan?” Ungkap Mba Ina, panggilan jurnalis senior salah satu media nasional tersebut.

Alya mendengarkan dengan serius. Otaknya mulai bergerak cepat mengaitkan kasus-kasus yang menimpa partai politik yang sedang mereka bicarakan.

“Benar Mba. Justru kebijakan partai politik semacam ini akan meningkatkan mosi tidak percaya dari masyarakat. Kita semua juga tahu bahwa yang diinginkan masyarakat adalah mereka bisa makan, sekolah dan mendapat layanan kesehatan yang layak. Ya, sesederhana itu memang pemikiran rakyat biasa. Tapi menurut saya itulah kewajiban utama pemerintah terhadap rakyatnya.” Kata Alya bersemangat.

“Ya, Mereka akan memperoleh apa yang mereka semai sendiri. Dari awal mereka sudah bermain api. Mengurus negara ini memang bukan perkara gampang. Jadi seharusnya mereka jangan main-main di awal terjun ke arena politik ini. Akhirnya rakyat yang jadi korban di sini.” Kata Mba Ina menambahkan.

“Menurut Mba sendiri, dengan model pesta demokrasi yang menghabiskan banyak dana selama ini apakah efektif untuk menciptakan kehidupan bernegara yang sejahtera dan maju? Kenapa sih Mba sistem negara ini menuntut banyak uang hanya untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat? Apa kita sedang bertransaksi jual beli pemimpin?” Alya bertanya dengan nada tidak sabar.

Mba Ina menghembuskan nafas dalam, kemudian tersenyum melihat keingintahuan Alya.

“Alya… Kamu lebih mirip wartawan daripada staf MRO” Kata mba Ina tertawa kecil.

Wajah Alya tersipu malu. Dia sadar sudah terlalu mendalam membahas masalah politik ini dalam acara kantor, yang pastinya forum ini bukan untuk membahas hal tersebut. Mendadak Alya salah tingkah setelah dilirik atasannya yang berdehem, mengisyaratkan dirinya untuk berhenti membuat forum khusus di dalam forum resmi acara kantor itu.

“Kalau kamu tertarik mendiskusikan ini lebih lanjut, kamu bisa datang ke diskusi saya.” Ujar Mba Ina sedikit berbisik mencondongkan kepalanya pada Alya.

“Benarkah? Kapan dan dimana Mba?’ Kata Alya antusias.

“Setiap sabtu pagi pukul 9 di perpustakaan yayasan samping kantor saya.” Sambung Mba Ina.

Alya tersenyum lebar dan berbisik, “Wah…. Mau Mba. Terima kasih.”

Selesai acara gathering dan melepas kepergian para jurnalis perempuan yang berjumlah 13 orang itu dengan hangat, Alya bergegas menuruni anak tangga. Dia berpapasan dengan Kemal ketika hendak memasuki ruangan redaksi. Kemal menyapanya riang. Bahasa tubuhnya seperti berusaha menahan Alya barang sebentar untuk sebuah pembicaraan kecil.

“Hai, Kem. Ke mana aja? Sibuk banget ya? Keluar mulu nih tampaknya.” Alya membuka pembicaraan.

“Biasa Al. Lagi banyak orderan nih.” Kemal tertawa lebar memperlihatkan deretan gigi-giginya. Kemal adalah wartawan untuk bidang polhukam di majalah mereka. Suhu politik yang memanas saat ini membuatnya sibuk mencari berita. Dia biasa mondar mandir dari gedung DPR, KPK hingga ke beberapa sekretariat partai politik. Bahkan tak jarang juga dia pergi ke acara-acara yang dikunjungi beberapa politisi yang terkait untuk menanyakan pendapat dan mengorek informasi. Ini bukanlah pekerjaan yang sekedar meliput berita tapi melakukan investigasi di lapangan hingga nanti terbit menjadi sebuah tulisan yang kaya fakta, data dan tajam dalam analisisnya. Kerja wartawan memang melelahkan.

“Oh ya, gimana tulisanmu? Kata Irfan kamu lagi nulis untuk opini. Boleh dong aku ikutan baca sebelum dikasih ke si Irfan itu. Ntar dia malah nyolong ide kamu lagi buat tulisan di Korannya.” Canda Kemal sambil terkekeh.

“Loh? Dia kasih tau kamu juga aku bikin opini? Sebenarnya aku juga nulis gara-gara dirayu-rayu sama dia.”

“Wuihh… Canggih dia sekarang pake jurus rayuan segala. Kehabisan ide kali tuh bikin tulisan.” Kemal menjawab asal tentang sahabatnya itu. “Eh, aku ada info baru nih. Anak-anak lagi pada heboh dengan undangan Presiden pada para tokoh ulama nasional. Kayaknya strategi baru koalisi.” Bisik Kemal.

“Oh ya?” Alya ikut penasaran. “Apa mereka sudah kehabisan akal untuk mengambil hari rakyat setelah semua pencitraannya hancur di mata publik?”

“Yaaa…. Siapa tau aja ada yang bisa dibeli. Lumayan kan tokoh-tokoh itu massanya banyak.” Kemal mengedipkan matanya.

“Wow… Menarik sekali. Apa menurutmu…” Tiba-tiba handphone Alya berdering. Dia buru-buru mengangkatnya. Setelah berbicara sebentar dan menutup telepon, Alya memandang Kemal dengan berat hati. “Kem, Ntar kita ngobrol lagi ya. Bosku nelpon nih, beliau udah nungguin aku mengambil berkas update-an data media dari Mas Hengki.”

“Ok deh… Eh, tulisanmu nanti kirim ke aku yaaa…!”

Alya mengacungkan jempolnya lalu bergegas memasuki ruangan. Dia tersenyum cerah mendapati Mas Hengki, seketaris redaksi majalah tersebut melambaikan map  berwarna merah padanya.

***

Alya mempercepat langkahnya. Dia hampir terlambat mengikuti kursus conversation-nya malam ini, karena dia pulang dulu ke kosannya untuk shalat Maghrib dan mandi. Di gedung tempat Alya kursus, fasilitas tempat shalatnya sangat tidak nyaman. Hanya ruang kecil menyempil di pojok ruangan dan tidak ada pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan.

Kelas sudah dimulai ketika Alya masuk dan menyapa tutornya. Seketika Alya bingung apa dia salah masuk kelas karena yang berdiri di depannya bukan Alex tapi seorang laki-laki jangkung berdiri tegap, berkulit hitam dengan rambut keriting cepak. Kegugupan Alya hilang ketika melihat wajah-wajah teman sekelasnya yang menatapnya seolah terguncang, sepertinya bukan terguncang karena kedatangan Alya tapi karena kertas yang sedang mereka seriusi, sepertinya tugas yang sulit. Alya menyapa “hi” sambil mengembangkan senyum pada tutor barunya itu dan buru-buru menuju bangku di sebelah salah seorang temannya. Gadis itu menjelaskan bahwa tutor baru itu namanya Mario, native speaker dari New Zealand, nenek moyangnya berasal dari kepulauan Fiji. Mario menggantikan Alex yang pulang ke Inggris. Mario kemudian menghampiri Alya dan memberikan secarik kertas bergambar.

I want you to describe this picture and give your opinion about this man. You can do it in group, ok!” perintah Mario dengan ramah.

Mata Alya langsung tertuju pada gambar tersebut, seorang pria berwajah Asia Selatan dengan pakaian jubah dan peci putih, yang mengejutkan Alya adalah pria tersebut memegang sebuah plat plastik di dadanya yang di permukaannya tertera angka-angka menyerupai nomor identitas.

Lagi-lagi Alya harus bergabung dengan kelompok anak laki-laki di kelas itu untuk ketiga kalinya selama lima pertemuan ini. Kemaren dia juga dimasukkan ke dalam kelompok yang sama oleh Alex. Hans dan Reynard, mereka berdua adalah mahasiswa semester dua dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka sangat bangga bisa masuk ke kampus tersebut, seolah mendeklarasikan bahwa “kami ini mahasiswa pintar” sambil tertawa menirukan gaya pahlawan bertopeng. Imajinasi Alya benar-benar keterlaluan kali ini. Kenyataannya, kedua anak muda itu memang pintar dengan ide-ide segar dan wawasan mereka yang luas, Alya senang bekerjasama dengan mereka.

Tapi kali ini mengejutkan. Hans menyeletuk tiba-tiba,

“Dia terlihat seperti teroris. Lihat barisan nomor yang dipegangnya, itu adalah no identitas pelaku kejahatan!”

Alya terlihat sedikit berjengit. “Huh! Cepat sekali dia menuduh seperti itu.” Rutuk Alya dalam hati.

Setiap ada laki-laki berjubah dan bersorban apalagi dengan memegangi plat nomor seperti itu pasti pikiran orang mengarah pada satu kata: Teroris! Alya merasakan betapa hebatnya propaganda media dalam mengonstruksi persepsi masyarakat. Seolah tidak ada kesempatan bagi orang-orang yang dicap “teroris” tersebut untuk menjelaskan tentang diri mereka.

I think he’s just a man who is involved into crime case.” Komentar Reynard. Itu tak ada bedanya dengan komentar Hans sebelumnya. Alya sadar bahwa kedua temannya ini bersepakat bahwa orang di dalam gambar itu adalah penjahat. Ini sama dengan mengatakan, “He’s a criminal, period!”

Alya tahu kedua teman satu kelompok diskusinya itu non muslim. Tapi tidak seharusnya juga mereka langsung menuduh seperti itu. Walaupun Reynard terkesan lebih halus, persepsinya memang tak  jauh-jauh dari asumsi bahwa laki-laki di gambar tersebut adalah penjahat. Terkadang Alya sedih mengapa orang-orang Islam dan Islam itu sendiri dianggap membahayakan dunia. Padahal selama ini hidup sebagai seorang muslimah, tak pernah dia mendapati Islam sebagai ajaran yang menyuruh manusia untuk berbuat jahat, justru mengajak manusia berbuat baik. Yang dia tahu pangkalnya adalah kejadian 9/11 yang menjadi titik dimulainya kebencian terhadap Islam secara masif. Akhirnya banyak orang Islam merasa tidak percaya diri dengan keislamannya, apalagi yang hanya berlabel di KTP. Kejadian di kelasnya kali ini benar-benar membuka matanya bahwa propaganda itu telah mengubah pandangan masyarakat tentang Islam seolah-olah sebagai sesuatu yang sudah disepakati bersama. Alya teringat pada perbincangannya dengan Mba Dwi di kantor tentang stigma negatif yang ditujukan pada muslim seperti ini. Dia melihat kesedihan dan kegeraman di wajah Mba Dwi kala itu. Namun, saat itu Alya belum menyadari dan merasakan bagaimana hal itu begitu menyakitkan bagi seorang muslim.

I think this man is a good man. This number… I don’t get it”. Alya mengemukakan pendapatnya. Teman-temannya hanya terpaku memandangi gambar tersebut. Mungkin ada perasaan tidak enak hati dalam diri mereka mengingat telah menyinggung Alya yang seorang muslim.

So, what do you think about this picture?” Suara Mario menyentak membuyarkan pikiran Alya yang jauh melayang mengitari berbagai ruang silih berganti. Mario memandangi mereka bertiga, menunggu siapa yang akan berbicara.

We have different point of view!” Potong Alya ketika Hans akan membuka mulutnya untuk berbicara. Hans tergagap dan menelan ludahnya.

Yeah, three of us have different perception about this man.” Sambung Hans menjelaskan. “I think this man is a terrorist.

Mario tidak terkejut mendengarnya, bahkan itu adalah pernyataan biasa yang akan keluar dari mulut siapa pun. “Why do you think so?” Mario tergelitik untuk bertanya. Dia menyipitkan matanya menunggu jawaban Hans.

Because his performance looks like a terrorist. He has  cruel eyes. Look at this number. This is the number for criminal in jail.” Jawab Hans mantap.

Alya ternganga mendengar penjelasan Hans. Mario mengarahkan pandangannya pada Reynard yang kemudian memberikan jawaban seperti yang sebelumnya dia ungkapkan dalam diskusi tadi.

What about you? Sorry, your name is…?” Mario memandang Alya penuh rasa ingin tahu. Dengan stelan pakaian muslimahnya yang sedari tadi dipandangi Mario dari ujung kepala hingga kaki, membuat Alya sedikit risih. Seluruh tubuhnya terbungkus pakaian, hanya wajah dan telapak tangannya saja yang memperlihatkan warna kulitnya yang coklat terang.

My name’s Alya.”

“Oh… Ok, Alya. What’s your opinion?”

I don’t agree with them. A man who dresses like him is a good man in my religion. He coveres his body well. I just don’t know about this number. What kind of number is that? It could be phone number or something else, right?  Why we presume that it’s a criminal number? I mean… We cannot judge people only by seeing this picture. We need to find more informations about him. It’s not fair if we judge him while we don’t know what happened to him. It’s a  stereotype. The media did it! They succeeded to make propaganda over it...” Alya menyudahi argumentasinya dengan perasaan nyeri. Kenapa tiba-tiba dia dan laki-laki di dalam gambar tersebut menjadi terasing di ruang kelas itu. Ketika menengadahkan wajahnya, dia melihat Mario memandangnya dengan penuh simpati. Alya tertunduk.

Well, it’s true. People are easy to make judgement. It’s a stereotype when we judge something without knowing the truth. It also happened to me because of my black skin. People always think that I’m a person who is bad or such an illegal immigrant, has no passport or visa.” Mario sepertinya mengambil momen ini untuk mencurahkan perasaan hatinya.

Actually, this man is a refugee from Afghanistan. He looked for protection in Australia. This number is his phone number. He wrote his phone number on that plate so that the human rights or other social organizations could help him. It’s right, Alya. The media are responsible for this.” Mario menjelaskan dengan mimik wajah simpatik.

Alya tak menyangka Mario akan mengemukakan penjelasan seperti itu. Ternyata masih ada orang yang mau melihat dengan pikiran objektif. Entah karena dia juga mengalami hal yang sama didiskriminasikan karena warna kulitnya ataukah itu memang dari pandangannya yang bijak. Alya hanya tertegun dan tidak bisa memastikan apa alasan Mario mengangkat topik berupa gambar yang kontroversial tersebut untuk materi diskusi di kelas ini. Dia hanya merasa kelas malam ini begitu menyeret hatinya jauh ke dalam kepedihan. Berbagai bayangan tentang diskriminasi terhadap Islam berkelebat dalam pikirannya. Selama ini dia tidak terlalu peduli, hanya menganggap berita itu sekedar pemberitaan. Tapi kali ini serasa dia menjadi bagian dari ketidakadilan tersebut. Entah, mungkin juga karena di kelas ini hanya dia sendiri yang muslim.

“Aku baru merasakan menjadi bagian dari Islam yang dilecehkan itu…” ucap batinnya bergetar.

***

Pembelajaran cerbung “Menepuk Rasa” ini bisa dibaca di sini: Komunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: