//
you're reading...
Faktual

Indonesia Bebas Asap Rokok, Mungkinkah Terwujud?

asap rokok - belajar nulisIndonesia Dalam Dekapan Asap

Polusi dari sektor industri dan asap kendaraan bermotor rupanya belum cukup menjadi faktor perusak lingkungan dan pengancam kesehatan masyarakat Indonesia. Ada asap rokok sebagai ‘serangan mematikan’ lainnya. Bagaimana tidak? Di Hari Anti Tembakau (31/05) ini tercatat setidaknya terdapat 89 juta keluarga perokok di Indonesia. Artinya, bila setiap keluarga tadi memiliki 1 anak, maka ada 89 juta perokok anak pasif (www.jpnn.com, 28/05/2012).

Menurut Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, jumlah perokok di Indonesia 65 juta orang atau setara dengan dua kali lipat jumlah penduduk Malaysia (www.republika.co.id, 07/02/2012). Untuk urusan rokok pula, Indonesia ada di peringkat III dunia (www.republika.co.id, 22/12/2009).

Tentu ini bukan prestasi gemilang, karena asap nikotin menyimpan banyak bencana. Asap rokok selain sangat berbahaya bagi penikmatnya, juga memberikan efek merusak bagi kesehatan perokok pasif terutama anak-anak. Gangguan pernafasan, kanker paru-paru, masalah pendengaran, gangguan pertumbuhan adalah bahaya yang harus dihadapi oleh mereka yang terpapar asap rokok.

Ada 400.000 kematian setiap tahun di Indonesia akibat rokok, 25.000 kasus di antaranya terjadi pada mereka yang tak pernah merokok sama sekali (www.kompas.com, 24/04/2012). Kita tentu masih ingat pada Khasidoh, wanita 25 tahun yang meninggal akibat kanker paru-paru. Dia adalah perokok pasif akibat kebiasaan merokok ayah dan kakeknya. Geoff Thompson, wartawan televisi ABC Australia, sampai mendokumentasikan keprihatinannya terhadap Khasidoh dan penderitaan perokok pasif lain di Indonesia dalam film dokumenter berjudul 80 Million Smokers Everyday in Indonesia.

Ambiguitas Kebijakan Pemerintah

Jamak diketahui bahwa rokok berbahaya. Efek positif yang diklaim para penikmat rokok seperti perasaan nyaman, lebih inspiratif, menghangatkan badan, dan lainnya hanya sekedar alasan yang tidak terbukti secara medis. Justru nikotin yang terlepas ke pembuluh darah saat merokok memberikan efek candu seperti halnya narkoba. Karenanya perokok kesulitan berhenti dan harus menambah kuantitas rokok untuk mendapat efek ‘nikmat’ yang sama.

Tapi fakta yang menimpa perokok aktif dan pasif di lapangan tidak menyurutkan gempita industri rokok tanah air. Raksasa industri batang nikotin ini justru makin meroket. Iklannya dengan mudah bertebaran, lengkap dengan label tangguh dan perkasa yang dilekatkan pada para penikmatnya. Ditambah lagi, beberapa perusahaan rokok dengan bebas menjadi sponsor berbagai acara olahraga popular Indonesia. Otomatis hal ini semakin mendekatkan masyarakat pada budaya dan gaya hidup merokok. Perokok aktif makin kecanduan, sementara perokok pemula kian bermunculan.

Kita patut bertanya, lalu di mana peran pemerintah? Pemerintah seolah setengah hati mengurusi kesehatan generasi bangsa. Tidak bisa dipungkiri bahwa industri rokok menyumbang negara dengan penerimaan pajak terbesar. “Tahun 2011 itu cukai rokok sekitar Rp. 77 triliun,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa (www.inilah.com, 19/4/2012)

Fakta ini memunculkan ambiguitas pemerintah dalam menelurkan kebijakan. Usaha menjaga kesehatan bangsa dan memberantas budaya merokok bisa dirasakan meski timbul tenggelam. Seperti Dinas Kesehatan yang massif mengkampanyekan gerakan anti rokok juga beberapa Pemda yang menetapkan area bebas asap rokok. Namun dari sisi industri, tidak ada regulasi tegas untuk menekan produksi dan sanksi bagi perokok. Walhasil, setinggi apapun cukai yang dibebankan pada produsen rokok, asap nikotin itu tetap lancar terkepul di udara.

Kesadaran Penuh dari Individu dan Negara

Perlu disadari bahwa merokok tidak memberikan apa-apa kecuali efek negatif semata. Perokok aktif terancam impotensi, gangguan kehamilan, berbagai macam kanker, disfungsi sistem pernafasan dan efek negatif lain. Perokok pasif yang secuilpun tidak pernah menghisap rokok memiliki bahaya serupa, bahkan lebih parah. Bayangkan bila yang diracuni tiap hari oleh asap ini adalah anak-anak dan remaja, tentu bisa diestimasi kesehatan dan kecerdasan penerus bangsa ini di masa mendatang.

Bagi seorang muslim yang taat, tentu kita harus mengingat bahwa membuang harta dan waktu untuk sesuatu yang sia-sia bukan sikap Rasulullah SAW. Sehingga kita tak punya alasan untuk melakukan perbuatan sia-sia yang berdampak buruk ini. Jika alasan para perokok adalah mendapat pengakuan sosial dengan kebiasaannya, maka sungguh banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan itu. Pun dengan alasan memunculkan ide, menghangatkan badan, dan sebagainya, banyak aktivitas lain yang mampu mendatangkan hal tersebut tanpa merokok.

Selain kesadaran penuh individu, negara punya andil paling besar. Negara memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur rakyat dan mengeluarkan kebijakan. Dalih ekonomi yang berkembang selama ini bahwa industri rokok adalah pahlawan devisa dan menciptakan lapangan kerja merupakan klaim yang rapuh. Karena banyak langkah lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan dua hal itu.

Kita tidak boleh menyerahkan kesehatan dan kualitas generasi penerus bangsa pada asap rokok. Namun kesadaran ini akan percuma bila negara tidak tegas. Karena tidak mungkin Indonesia bebas asap rokok bila pemerintah setengah hati menekan sektor hulu karena senantiasa tergiur besarnya cukai yang diraup dari industri ini.

 

Pembelajaran tulisan Indonesia Bebas Asap Rokok, Mungkinkah Terwujud? bisa dibaca di Komunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: