//
you're reading...
Chicken Soup

PENGAKUAN

By : Retno Sukmaningrum

akhwat pengajian - belajar nulis“Bu, saya mau buat pengakuan”, sepenggal kalimat meluncur dari bibir akhwat pengajian, yang beberapa waktu lalu bergabung dalam barisan dakwah. “Pengakuan apa?”, tanya sang guru. “Bu,sejujurnya yang membuat saya terdorong untuk aktif dakwah dulu karena rasa penasaran. Saya penasaran apa yang membuat mendorong orang-orang, yang mereka sekarang menjadi guru-guru saya begitu ‘ngebet’ ngajak saya ngaji. Mereka juga tidak merasa rikuh untuk berupaya ketemu saya, yang (maaf) tingkat pendidikannya lebih tinggi, status sosial lebih mapan, gaji pun oke. Padahal mereka datang menemui saya dengan mengendarai sepeda pancal (=kayuh) karatan yang bunyinya sudah ‘kriet…kriet’ dan kadang membawa sepeda motor butut yang suaranya memekakkan telinga-mengalahkan suara bemo. Apa yang menggerakkkan mereka ? Apa yang membuat mereka begitu merasa percaya diri dan tebal muka dengan kondisi yang ada ? Mereka dibayar berapa? Dan masih banyak pertanyaan yang bergelayut di benak saya saat itu. Bersyukur pertanyaan-pertanyaan tadi saya lanjutkan dengan mencari tahu rahasianya.

Alhamdulillah, rasa penasaran itu mengantarkan saya ikut’nyemplung’ dalam dakwah.”Percakapan di atas adalah rekaman dialog saat bertemu dengan salah seorang aktivis dakwah. Pertanyaan yang ada pada benak aktivis tersebut mungkin mewakili pertanyaan yang ada pada kebanyakan orang saat mereka melihat para aktivis dakwah mau berkorban waktu, tenaga, pikiran dan apapun yang ada pada dirinya untuk mengemban amanah dakwah, meski mereka tidak dibayar seperpun (kalau minta bayaran, bukan berkorban namanya!). Kondisi tersebut sebenarnya sama persis dengan kondisi Rasulullah SAW saat beliau melakukan dakwah di Mekkah. Banyak orang yang menganggap beliau aneh, nyleneh, bahkan dianggap tidak waras. Saat manusia menganggu-angguk – bahkan seringkali berebut –ketika ditawari harta, tahta dan wanita, Rasulullah SAW justru tak mengindahkan semua tawaran itu. Aneh?

Sebenarnya bukan hal yang aneh. Yang ada adalah manusia belum mampu ‘melihat’ apa yang ingin dikejar, apa yang ingin diraih oleh Rasulullah SAW maupun pengemban dakwah yang hidup di tengah masyarakat kapitalis,seperti saat ini. Ibarat kita melihat sebuah film ada anjing mengejar kelinci. Kita bisa memahami tingkah anjing yang lari tak karuan karena mengejar kelinci yang melompat ketakutan ke sana ke mari. Namun ketika mana, gambar kelinci ditutup, alias tak terlihat, maka kita pun merasa heran – kenapa si anjing kok larinya tidak karuan. Di benak kita bisa muncul pikiran bahwa itu adalah anjing gila. Jadi – sekali lagi- masyarakat menganggap dakwah dan aktivis dakwah suatu hal yang aneh karena mereka belum mampu melihat apa yang ingin diraih pengemban dakwah.

Pasti yang akan diraih sesuatu yang besar, buktinya ditawari harta, tahta dan wanita pun ogah. Memang benar, semua yang ditawarkan itu tidak sebanding dengan yang ditawarkan Allah SWT , makanya ditolak. Apa yang ditawarkan Allah SWT jauh lebih besar, maka pengemban dakwah sampai tamak tuk meraihnya

عَنْ أَبِي رَافِعٍ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ عَزَّ

وَجَلَّ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلا خَيْرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ.(اخرجه الطبراني, المعجم الكبير, ج 1 / ص 403)

Dari Abu Rafi’, dia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Sungguh kalau Alloh Azza wa Jalla memberikan petunjuk pada seorang laki-laki melalui engkau itu lebih baik bagimu dibanding hal-hal yang matahari terbit dan tenggelam di atasnya”.(Hadits dikeluarkan oleh Ath-thabarani, al-Mu’jam al-Kabir, juz I hal 403)

Dari hadits di atas jelas, bahwa Allah bukan hanya mengiming-imingi harta, tahta dan wanita, tapi apa yang diperoleh seorang pengemban dakwah adalah jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya, dimana matahar terbit dan tenggelam di atasnya.

Subhanallah…

Itu baru satu hal. Hal lain kebaikan dan keutamaan mengemban dakwah adalah karena dakwah adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT, serta dengan berdakwah Allah menjanjikan akan memberikan naungan saat mana tak ada naungan pada hari itu, yakni saat yaumul ba’ats.

Saya yakin, jika manusia mengetahui dan memahami ‘rahasia janji Allah’ ini, mereka pun akan berupaya untuk meraihnya. Tapi sayang, kadang untuk mau tahu dan mau paham saja susah. Bukan kurang pintar atau kurang cerdas, tapi lebih karena tebalnya ego dan kesombongan yang akhirnya menabiri untuk melihat kebenaran.

Bersyukurlah orang-orang yang masih terdorong untuk mencari kebenaran,yang mau menurunkan ego untuk mendengar, sekalipun yang datangmembawa kebenaran adalah orang yang memakai sandal butut dan bersepeda karatan yang berbunyi ‘kriet..kriet..’, tak bertitel dan mempunyai jabatan.

Surabaya, 17 Mei 2011

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: