//
you're reading...
Ali Akbar, Solilokui

Siapa Kita?

By Ali Akbar in Belajar Nulis

siapa kita - belajar nulisHujan turun di ibukota, mengabarkan kepada seluruh jiwa akan panasnya kehidupan di dunia. Awan yang seakan tak mampu lagi menanggung beban derita harus menangis, karena banyak manusia tak berdosa telah kehilangan nyawa. Burung – burung yang berkicauan setiap pagi tak semerdu dulu kini telah membisu. Mereka yang kehilangan arah dan tujuan tak mampu lagi mencari tempat perlindungan di negeri ini. Negeri yang pemimpinnya hidup mewah, tapi rakyatnya makan dari mengais sampah. Para Pemimpin yang masih bisa tidur nyenyak walau diluar sana kelaparan telah berteriak.

Kemana lagi harus mencari tempat aman? sedangkan kedinginan dan kelaparan sudah menjadi selimut kehidupan. Kemana lagi harus mengadu? Sedangkan telinga dan mata mereka telah tuli dan tertutupi oleh tembok-tembok tebal nan tinggi.

Di negeri ini orang baik dianggap salah. Teguh dan konsisten hanya menambah resah bagi mereka yg tidur di balik tembok nan gagah. Takut mereka nantinya berkicau layaknya burung mencari rezeki di pagi hari. Tapi ini tidak akan membuat orang baik tersebut patah semangat dan berhenti berjuang. Namun semangat mereka akan terus membara di dada walau usia tinggal nama. Karena mereka akan terus diganti sama yang baru dan segar serta semangat tak pernah pudar.

Manakah hari ini yang namanya Nasionalisme? Manakah partai yang hari ini memperjuangkan Nasionalisme? Ataukah ini hanya semboyan ketika 17 Agustus saja? Ataukah hanya ada ketika pertandingan bola dan ganyang Malaysia. Teringat lagu jaman kecil dulu. “bangun pagi ku langsung mandi, tidak lupa gosok gigi, habis mandi ku tlong ibu membersihkan tempat tidurku”

Katanya Nasionalisme, tapi mulai sikat gigi saja pake pepsodent dan close up milik Unilever. Katanya nasionalisme ketika mandi, pake sabun merek Lux, Lifeboy yang jelas-jelas milik unilever Inggris. Rambut pun di keremas dengan sunsilk, Rejoice atau pantene. Habis mandi membilas diri, semoga handuknya made in sendiri, tapi kalolah handuk palmer, maka untuk urusan mandi kita tergantung dari luar negeri (asing). Jangan-jangan kloset dan showernya juga dari luar?

Baik lah, kita lupakan saja!. sambil bersiul kita memakai pakaian dalam. Duh jangan –jangan Jordan atau mungkin Hanes. Lanjut kita pakai kemeja, jelas keren kalo pake Hugo Boss. Tak lupa biar wangi diberi sedikit semprotan Aigner, Polo atau Versache, kayaknya lebih keren. Tapi ini pun merek dari luar. Takut tidak ketinggalan biar ontime dan tepat waktu, maka jam tangan tidak ketinggalan, itu pun merek Philip, Rolex atau omega.

Penampilan sudak ok! Lanjut breakfast. Kalopun breakfastnya dengan sereal dan bubur kacang hijau masih bolehlah. Tapi jika roti, jangan-jangan Sari Roti atau Sara lee, itu juga milik asing. Tidak lupa penghangat badan, yogurt pun tidak ketinggalan, tapi sayang itu juga milik Malaysia.

Saat ke kantor semoga masih naek Kijang atau Panther yang rakitan lokal, tapi tetap saja produsennya bukanlah perusahaan lokal. Ketika duduk di kursi, jangan-jangan juga dari luar. Sambil duduk mengerjakan tugas karena menumpuk. Duduk sambil menatap layar laptop. Maka sudah dipastikan jelas bisa Lenovo, Toshiba, IBM, atau Apple.

Perut sudah keroncongan, tandanya waktu makan siang! Berharap pecel ayam atau nasi padang, tapi karena takut ketinggalan kurang pergaulan, kaki melangkah ke KFC, AW atau MacD.

Ternyata sadar atau tidak sadar dari bangun hingga mau tidur, kita telah menggunakan produk asing sebesar 90 %. Lantas apakah ini yang namanya nasionalisme? sehingga negera ini hanya bisa menjadi pengekspor tenaga kerja dan sekaligus negara konsumerisme? Maka Sudah saatnya kita merenung, karena naisonalisme hanyalah bersifat semu yang tidak akan pernah mengikat setiap individu. Tapi kalolah Syariah diterapkan, walaupun warna kulit kita berbeda, bahasa kita beda, tapi aqidah lah yang akan mempersatukan kita. Karena kesamaan tujuanlah yang akan mempersatukan kita. Namun Syariah tidak akan pernah sempurna tanpa daulah. Oleh karena itu semoga kita terus berdo’a, bahwa Allah akan mempercepat tegaknya Khilafah. InsyaAllah permasalahan dan peliknya kehidupan akan terpecahkan oleh Islam. Karena ini adalah janji Allah! Amien Ya Robbal ‘Alamin

Pembelajaran tulisan Siapa Kita bisa dibaca di Komunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: