//
you're reading...
Chicken Soup

Sigrid dari Jehovah Witness

Oleh: Nurisma Fira

Waktu itu Senin sore dan saya sedang berusaha membereskan semua barang2 yg tersisa sebelum kami pindah rumah. Ayah, dan krucils ke warung untuk membeli makanan karena dapur sudah ditutup. Perkakas dan bumbu sudah dikardus. Mendadak pintu diketuk.

“Yes, wait please…” kata saya sambil terburu-buru memakai jilbab dan kerudung.

Ternyata tamunya Sigrid. Kejutan, pikir saya. Terakhir kali Sigrid datang adalah sebelum Dinara lahir. Setelah ber-hai how are you good thank you, saya terpaksa meminta maaf karena tidak bisa mempersilakan Sigrid duduk. Rumah sudah sangat berantakan. Sigrid yg datang bersama temannya yang berkulit hitam memaklumi.

“We know you’re moving,” katanya sembari menunjuk papan bertuliskan TO LET yg dipasang agen perumahan di depan rumah.

Sigrid sudah tua. Sudah nenek-nenek. Umurnya barangkali sudah 60 tahun lebih.

Saat pertama kali datang, ia menolak dipersilakan masuk dan duduk. Hanya bertanya, “Excuse me, are you expecting?”

Itu lebih dari 3 tahun yang lalu.

Sejak saat itu Sigrid selalu datang. Berkhotbah dan membawakan berita gembira dari kitab Injil. Juga membawakan buku-buku yg diterbitkan Jehovah Witness. Sekali waktu saya bilang, “I already chose a religion and I’m a muslim. I’m not interested in Jehovah Witness. Isn’t it better if you give these books to someone else who really needs them?” Sigrid lantas menerangkan bahwa tujuannya hanya menyampaikan. Sehingga ia tidak membatasi aktivitasnya hanya kepada kalangan tertentu.

Berikutnya ketika berkesempatan ketemu Si Ayah, diskusi makin berkembang. Sesuai peraturan di dalam ajarannya yg hanya membolehkan aktivitas ‘dakwah tatap muka’ hanya kepada sesama jenis, Sigrid mengenalkan Hugh kepada kami.

Hugh juga sudah sangat tua. Sepuh, orang Jawa bilang. Karena dia dulu juga dosen di Trent University, Ayah bisa mengobrol lebih gayeng. Si Ayah dan Hugh, sebagaimana saya dan Sigrid, bertemu seminggu sekali.

Setelah Damar lahir, melihat kesibukan saya, Sigrid jadi jarang datang. Sementara Si Ayah dan Hugh tetap rutin bertemu.

Mula-mula Ayah hanya duduk manis dan mendengarkan. Di pertemuan2 berikutnya Ayah mulai nanya macam2. Salah satu yang diperdebatkan Ayah dan Hugh adalah tidak adanya konsep takdir dalam agama JW. Tuhan hanya memberikan yang baik dan indah saja, Bila ada hal buruk menimpa maka itu mutlak bukan dari tuhan. Sampai suatu ketika suami menantang Hugh agar juga diberi kesempatan utk menjelaskan Islam.

Sayangnya di tengah-tengah diskusi, Hugh digantikan orang lain. Karena ia harus merawat istrinya yang sakit-sakitan. Penggantinya seorang pemuda berkulit hitam yang hanya datang 2-3 kali. Setelah itu ketiganya tak pernah datang ke rumah. Saat Dinara lahir, Sigrid hanya mengirimkan kartu.

“I’m sorry I didn’t come earlier,” kata Sigrid. “As I think you’re busy with your new baby I decided to come after you’re a little bit free.”

“Yes, we’re a bit free now… that’s why we’re moving…” kata saya sambil cengengesan. Setelah ngobrol macam2, termasuk memberitakan bahwa istri Hugh meninggal beberapa hari sebelumnya, dan Hugh sedang mngurus kremasinya (“He’s very devastated as his wife is his center of life…” kata Sigrid) maka masuklah Sigrid ke maksud dan tujuan kedatangannya hari itu.

Yakni untuk memberikan buku-buku Jehovah Witness dalam bahasa Indonesia pada saya. Yang menurutnya dia sudah menjanjikan itu sejak lama. Yang saya sendiri sudah nggak ingat kami pernah membicarakan itu.

Faktanya adalah, saya beralasan tidak bisa berbahasa Inggris demi menghindari khotbah dan ceramahnya Sigrid. Jadi tiap Sigrid minta saya baca leaflet, buku, majalah, juga Bibel yg diberikannya (semua gratis!), saya selalu ngeles bilang nggak ngerti bahasa Inggris. Soalnya saya nggak sampai hati mengajak si nenek diskusi apalagi sampai debat seperti Si Ayah lakukan.

Maka sore yg cerah itu saya belajar sebuah ketlusan dan kerja tanpa pamrih dari nenek tua bernama Sigrid. Dia yang bukan muslim, ajarannya jelas2 salah dan nggak masuk akal, pasti sering ditolak saat mengetuk dari pintu ke pintu (Ebiet G Ade, kaliii), dicela dan dihina. Bahkan mungkin ia dan JW dianggap agak kurang waras.

Yang begitu saja, punya semangat yang tak lekang oleh matahari musim panas dan tak lapuk oleh salju musim dingin utk menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran.

Bagaimana dengan kita yang muslim? Bagaimana lagi dgn para pengemban dakwah?

Pak Fahmi Amhar, di dalam sebuah komentarnya menulis, “Dulu ada surat dari Amir Hizb: ‘Andaikan kalian mendatangi ahli Nushroh, terus ahlu Nushrohnya masih bertanya, “Man anta?” – nah ini berarti, sebenarnya kalian belum dikenal oleh si ahli nushroh. Aktivitas anda belum dikenal, reputasi anda belum dikenal, bagaimana ini akan dikasih dukungan?’

“Karena itu kawan, kontak-kontak-kontak! Jangan hanya berkumpul dengan sesama syabab! Kalau gaulnya hanya sesama syabab, seakan-akan Indonesia sudah full syariah, dan seakan-akan Khilafah bisa ditegakkan besok pagi. Pakai bumbu “ini janji Allah” lagi!. Allah itu menjanjikannya pada orang-orang dengan kualitas seperti apa? Apa yang seperti kita sekarang? Ayo bangun! Bekerjalah, dan Allah, malaikatnya dan orang-orang mukmin akan menyaksikan.”

Mari kita sampaikan Islam, syariah, khilafah. Kepada siapa saja. Jangan kalah semangat dengan para aki dan nini seperti Hugh dan Sigrid. Allah, malaikatnya dan orang-orang mukmin akan menyaksikan. Dan pinjem kalimat Pak Fahmi, “Biar tahu realitas lapangan. Biar lebih siap. (Dan) Biar Allah menganggap kita pantas untuk dilimpahi nushroh.”

 

Insya Allah…

Nottingham, 1 Juli 2011

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: