//
you're reading...
Hapshoh Pathfinding, Tausyiah

Kebahagiaan itu…

bahagia - belajar nulisSemua orang di penjuru dunia ini pasti menginginkan ‘KEBAHAGIAAN’ dalam hidup yang sangat singkat ini. Masalahnya adalah setiap orang memiliki persepsi masing-masing dalam menilai arti kebahagiaan. Kebanyakan manusia menganggap bahwa kebahagiaan adalah dari segi materi atau uang yang banyak, keluarga yang nyaman, usaha yang maju, kuliah yang sukses dan sederet daftar kebahagiaan dalam versi kebanyakan orang yang jika dirangkum jadi satu kata yaitu ‘MATERI’.

Jika itu yang dimaksud coba kita tengok beberapa milyuner dunia yang justru memiliki kebahagiaan dalam versi mereka yang menurut kita adalah uangnya. Adalah Rabeder seorang laki-laki yang tumbuh miskin dan berpikir bahwa hidup akan indah jika ia punya uang. Tapi ketika dia menjadi kaya, Karl menemukan bahwa ia tidak bahagia, sehingga ia memutuskan untuk memberikan semua kekayaannya: “. Ide saya adalah untuk tidak memiliki semuanya. “Uang adalah kontraproduktif – mencegah kebahagiaan yang akan datang.” Dia menjual istana mewahnya dan menggantinya menjadi pondok kayu kecil di pegunungan di Innsbruck.

Ada lagi seorang milyuner bernama Nicholas Berggruen yang menjadi tunawisma karena bagi dia memiliki rumah justru sebuah beban. Bahkan dia berencana meninggalkan kekayaannya. Baginya, kekayaan adalah kesan dan efek yang abadi, dan bukan pada kepemilikan barang. Majalah Forbes memperkirakan kekayaan bersih Berggruen 2.200.000.000 US$ pada 2010.

Kedua contoh di atas adalah hanya sebagian kecil perilaku ‘aneh’ milyuner dalam memandang uang yang bagi sebagian orang adalah sumber kebahagiaan. Sebagian besar milyuner yang lainnya masih menggunakan uangnya untuk berfoya-foya seperti membeli kota untuk kesenangannya sendiri.

Setelah merenung dan berpikir saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kebahagiaan adalah sebuah PERSEPSI dalam menghadapi setiap episode dalam kehidupan. Kita seharusnya ikhlas menerima qadha Allah dan tawakal dalam menerima hasil usaha kita karena USAHA adalah milik MANUSIA sedangkan HASIL adalah milik ALLAH. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah ayat

Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”.(Surah Al-Baqarah, Ayat 286)

Finnaly, setiap orang akan merasa bahagia ketika dia memiliki rasa syukur dan ikhlas menerima setiap episode kehidupan karena BAHAGIA adalah SEBUAH PERSEPSI bukan sesuatu yang tampak.

Pembelajaran tulisan ini KLIK ==> Komunitas Belajar Nulis

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: