//
you're reading...
Tausyiah

Catatan Untuk Muslimah

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) denga perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS. Al-Alaq: 1-5)

Menjadi muslimah yang shalihah,  cantik lahir & batin penuh pesona dan keajaiban adalah cita- cita mulia dan harapan luhur setiap wanita. Yaitu pribadi musimah yang mampu memancarkan pesona hakiki dari makna kelembutan, keanggunan, kesabaran, kecerdasan, cinta sejati dan akhlak mulia. Itulah gambaran pribadi ummul mukminin Sayyidah Khadijah dan Aisyah r.a. Tidak sekedar untuk suami, keluarga, karib kerabat, tetapi untuk segenap umat manusia dimanapun dan kapanpun mereka berada.

Ada sebuah kalimat yang penuh inspirasi; “Di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang wanita yang hebat.”

Umar bin Al-Khatab r.a mengatakan, “ Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu.”

Kekanakan dan keperkasaan, kepolosan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yang justru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

Kecerdasan Muslimah

Wanita Muslimah yang cerdas tidak lupa memberikan perhatian kepada akalnya seperti halnya dia telah memberikan perhatian terhadap tubuhnya.

Seorang penyair ternama, Zuhair bin Abi Salma pernah mengatakan: “Diri seorang pemuda itu separuh adalah lidah dan separuhnya lagi adalah hatinya. Setelah itu, tidak tersisa baginya melainkan hanya seonggok daging dan darah.”

Seperti halnya laki-laki, wanita muslimah juga mendapat kewajiban, dimana dia harus menuntut ilmu yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.  Aisyah r.a sendiri pernah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak malu-malu menanyakan dan mempelajari tentang berbagai masalah agamanya.”

Sosok Istri

Tak diragukan lagi, persiapan menjadi istri itu perlu latihan. Bukan latihan menjadi isteri-isterian. Namun berlatih mengorbankan selera yang tak mendatangkan pahala. Hidup bersama suami dan anak-anak memastikan adanya sejumlah prioritas. Ada yang mesti didahulukan, ada yang harus ditunda, bahkan ada yang harus ditinggalkan. Inilah bagian dari perjuangan dan pengorbanan. Seorang muslimah yakin bahwa tiap korbanan dalam ketaatan kepada Allah pasti mendapat balasan terbaik dariNya. Tiada yang sia-sia selama keikhlasan menyertai setiap pengorbannya. Menjadi seorang isteri menuntut pengorbanan. Setidaknya menanggalkan ego, mengelola selera pribadi agar tak ada hak suami yang terabai. Kesiapan hanya dimiliki mereka yang berkepribadian Islam. Kokohnya kepribadian Islam amat menentukan suksesnya seorang isteri. Bayangkan jika ia tidak berkepribadian Islam atau tidak kokoh pribadi Islamnya. Arah hidup tak menentu, setiap keputusan diambil dengan pertimbangan selera diri. Tentu suami akan menjadi korban ego sang isteri. Hak-hak suami yang menjadi kewajiabn isteri terlantar. Terutama apabila tak sejalan dengan selera isteri. Ali- alih berusaha menunaikan hak isteri dan anak-anaknya, persoalan diri sendirinya oun tak selesai.

Muslimah yang kokoh kepribadian Islamnya senantiasa siap menghadapi kesulitan dalam perjuangan. Perjuangan mengemban misi hidup dengan gembira ia nikmati setiap peristiwa dan kesulitan dalam menunaikan seluruh kewajiban . termasuk kewajiban menunaikan amanah sebagai isteri. Seberat apapun takkan mendatangkan penyesalan dan keluh kesah. Hal ini karena ia sadar akan balasan yang terbaik yang dijanjikan Allah, yakni surge, satu-satunya tempat meraih kebahagiaan abadi. Kesadaran ini bukan sekedar ungkapan. Melainkan keyakinan yang terwujud sebagai kesungguhan dan kehati-hatian beramal. Muara dari semua pengorbanannya hanyalah untuk kebahgiaan dirinya juga. Motivasi yang kokoh tumbuh untuk memenuhi firmanNya;

“Maka barangsiapa melakukan amal kebajikan walaupun seberat zarrahpun niscaya ia kan melihat balsannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberta zarrahpun niscaya dia akan melihat balannya pula.: (TQS. Al-Zalzalah; 7-8).

Lelah dan istirahat tak lagi persoalan karena stiap tetes keringat, airmata dan darah pasti diganti oleh Allah, Sebaik-baik Pembalas.

“Ya Allah, ku sadari sepenuhnya bahwa  aku tidak memiliki apa-apa di hadapan-Mu. Yang ku goreskan ini, hanyalah sebagian kecil dari tetesan-tetesan ilmu-Mu yang begitu luas nan membentang di daratan dan lautan. Begitu besar keinginanku yang bersarang dalam dada untuk menyampaikan apa yang Engkau titahkan untuk disampaikan. Berupa risalah cinta, pesan-pesan kebaikan dan kemuliaan. Nasehat-nasehat bijak dan kearifan yang kan membangkitkan singa-singa Allah untuk berjuang meraih kemuliaan Islam. Allahu akbar..!!!

Sumber: https://www.facebook.com/groups/391394384227701/doc/406738156026657/

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: